Secondary Offering BNI Harus Dilakukan Setelah Merger
Sabtu, 19 Mar 2005 21:42 WIB
Lido - BNI lebih baik melaksanakan secondary offering atau penawaran saham kedua setelah dilakukannya rencana merger. BNI saat ini diketahui sudah mengajukan proposal untuk melakukan merger dengan BTN dalam rangka memperbesar total assetnya."Saya pikir BNI lebih baik merger dulu karena kalau melakukan secondary offering terlebih dulu belum tentu pemilik saham yang baru menyetujuinya," kata Senmior Equity Analis BNI Wealth Management Fendy Susiyanto saat Lokakarya Wartawan Pasar Modal di Lido, Sabtu (19/3/2005). Menurut Fendy, merger atau akuisisi merupakan saah satu upaya untuk memperbesar total aset perseroan dimana untuk BNI terdapat 3 kebijakan untuk memperbesar asetnya. Pertama pertumbuhan secara organik. Kedua merger dan akuisis dan ketiga aliansi strategis.Merger dan akuisisi paling sering digunakan, karena merupakan modus market entry yang paling tepat selain memiliki keuuntungan strategis jika waktunya sangat tepat.Pada bagian lain dia mengatakan, Maret 2005 komposisi dana murah di perbankan nasional sudah lebih tinggi dibandingkan dana mahal dalam hal ini deposito. "Dimana perbandingannya adalah 54 persen dana murah berupa tabungan dan giro sisanya deposito," katanya. Dalam kesempatan yang sama, Sunarsip, tenaga ahli bidang riset dan kebijakan Menneg BUMN mengatakan, Bank Tabungan Negara (BTN) tidak akan kompetitif jika tidak dimerger oleh bank lain yang lebih mampu dari sisi finansial. BTN dinilai akan lebih bisa ekspansif untuk sektor perumahan jika dimerger oleh bank yang lebih kuat."BTN memiliki masalah pedanaan kalau dibiarkan sendiri tidak akan kompetitif dan tidak bisa membangun perumahan yang banyak. Makanya perlu merger dengan bank yang memiliki over likuiditas," kata Sunarsip.Baik BNI maupun BTN memang telah mengajukan proposal ke Menneg BUMN namun ada pola perbedaan mengenai pola pembayaran. "Sebaiknya kalau dimerger pendanaan mereka jadi lebib kuat apalagi BNI dan BRI sudah komitmen akan memberikan otonomi khusus kepada BTN," tegasnya.Sunarsip juga menjelaskan total aset perbankan Indonesia mencapai US$ 130 miliar jauh lebih kecil dari Singapura yang sebesar US$ 213 miliar dan Korsel sebesar US$ 998 miliar. Padahal jumlah bank di Indonesia mencapai 140 bank, atau lebih banyak dibanding dengan Singaura yang sebanyak 3 bank dan Korea Selatan yang sebanyak 7 bank.
(mar/)











































