Isu Money Laundring Hantui BEJ

Isu Money Laundring Hantui BEJ

- detikFinance
Minggu, 20 Mar 2005 10:02 WIB
Bogor - Maraknya perdagangan saham diikuti tingginya nilai transaksi harian yang mencapai Rp 2 triliun per hari menimbulkan kecurigaan adanya money laundring melalui Bursa Efek Jakarta (BEJ). Kenaikan IHSG saat ini dinilai sudah tidak wajar dan membuat risiko investasi di saham semakin tinggi. "Kenaikan indeks BEJ sudah melebihi rata-rata indeks Asean seperti Bangkok dan Kuala Lumpur. Padahal, tidak ada faktor fundamental yang cukup kuat. Orang mulai mencurigai itu money laundring lewat bursa, tapi itu sebatas mencurigai karena susah dibuktikan. Yang jelas, IHSG saat ini sudah tidak wajar," ujar Ekonom BII Ferry Latuhihin dalam acara Workshop Wartawan Pasar Modal di Lido Lakes Hotel, Bogor, Minggu (20/3/2005). Secara ekonomi, lanjut Ferry, pertumbuhan Indonesia masih kalah jauh dibanding Malaysia dan Thailand. Sementara secara mikro, price earning ratio (PER) saham di BEJ sudah sangat tinggi sehingga kenaikan IHSG secara terus-menerus yang kini mencapai 1147,874 sudah tidak realistis karena seharusnya terjadi koreksi namun justru menguat. Ia menegaskan, pertumbuhan ekonomi yang dicapai tahun 2004 sebesar 5,13 persen bukan karena masuknya dana asing melainkan meningkatnya konsumsi masyarakat. Proyek infrastruktur yang dicanangkan pmerintah belum bisa menarik masuknya dana asing sehingga wajar kebanyakan manajer asing mulai waspada terhadap kenaikan IHSG. Ferry menambahkan kenaikan itu dapat dikarenakan investasi oleh reksadana. Namun, jika melihat nilai transaksi yang cukup tinggi hal ini tidak memungkinkan. "Jadi indeks sudah bahaya. Jika ditarik ke atas lagi bisa jebol dan terjadi bubble yang membuat indeks bisa turun di bawah 1000," katanya. Diakui Ferry, investor yang bermain di saham membeli berdasarkan ekspektasi pertumbuhannya. Namun yang terjadi saat ini, ekspekstasi terhadap harga saham sudah terlampau tinggi.Di tempat yang sama Direktur BEJ Harry Wiguna menegaskan kenaikan IHSG saat ini terjadi karena kepercayaan investor asing terutama terhadap saham berfundamental bagus. Sejak awal tahun 2005 hingga saat ini, indeks telah mengalami kenaikan sebesar 11,4 persen. Pada tahun 2004, kenaikannya 45 persen. Menurut Harry, beberapa saham telah mengalami PER yang cukup tinggi sehingga untuk menjaga investor tetap tertarik masuk ke Indonesia harus diupayakan masuknya barang-barang baru. "Harus ada barang baru seperti PLN atau Pertamina masuk bursa, itu akan menarik investor lagi," ungkapnya. Disinggung isu itu, menurut Harry, harus dilihat seperti apa money laundring yang dimaksud. Jika adanya uang tunai yang masuk sistem perbankan, jelas pasar modal tidak terlibat karena yang berkepentingan dan bisa menanyakan asal-usul dana masuk hanya pihak perbankan. Apalagi, anggota bursa juga diwajibkan membuka rekening di bank sehingga yang paling berhak dan paling tahu adalah perbankan. Namun, persoalannya jika ada asumsi money laundring merupakan hasil korupsi dimana dananya sudah berada di bank kemudian dimasukkan ke pasar modal. "Ini lebih susah dilacak karena uang sudah ada dalam sistem perbankan. Apalagi jika sudah masuk pasar modal, sekali menjual pajaknya sudah final. Bisa saja ini yang diinginkan pelaku," jelasnya. Ia melihat sistem atau aturan saat ini tidak memungkinkan terjadinya pencegahan jika dana tersebut sudah masuk ke sistem perbankan. Namun, kata Harry, BEJ menilai kenaikan IHSG bukan karena adanya money laundring tetapi investor melihat ada sesuatu yang menarik dan prospektif di pasar. (rif/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads