Wanita Perkasa Ini Bikin Dolar AS 'Kabur' dari Negara Berisiko Tinggi

Wanita Perkasa Ini Bikin Dolar AS 'Kabur' dari Negara Berisiko Tinggi

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 30 Mei 2016 12:35 WIB
Wanita Perkasa Ini Bikin Dolar AS Kabur dari Negara Berisiko Tinggi
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Pernyataan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), Janet Yellen terkait rencana kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat menggoncang pasar keuangan dalam beberapa waktu terakhir. Dolar AS kemudian menjadi begitu perkasa.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menjelaskan pernyataan Yellen membuat investor menarik dana yang selama ini ditempatkan di berbagai negara. Khususnya negara dengan risiko yang sangat tinggi.

"Banyak investor yang melepas dana di negara yang asetnya dianggapnya berisiko. Hampir semua mata uang regional terhadap dolar AS, termasuk Indonesia," ungkapnya kepada detikFinance, Senin (30/5/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Investor menilai kenaikan suku bunga, besar kemungkinan terjadi pada Juli 2016. Ini seiring dengan data-data ekonomi AS yang mulai membaik, kecuali inflasi. Target inflasi 2% masih sulit dijangkau oleh AS karena penurunan harga minyak dunia.

"Kalau melihat proyeksi market, probabilitas kenaikan suku bunga itu terjadi pada Juli," tegas David.

Ekonom Kenta Institut, Eric Sugandi menambahkan kondisi ini sebenarnya wajar terjadi dalam pasar keuangan. Kurang lebih, menurut Eric akan sama seperti saat isu kenaikan suku bunga acuan pada akhir tahun lalu.

"Isu utama yang menekan masih berkaitan dengan risiko kenaikan suku bunga AS dalam jangka pendek," ujar Eric kepada detikFinance.

Eric memperkirakan kenaikan suku bunga acuan AS sebesar 25 basis poin ke level 0,75%. Ini sangat bergantung pada kondisi pasar keuangan sebelum rapat pada Juni mendatang.

"Kami melihat kemungkinan Fed Fund Rate bisa naik ke 0,75%," imbuhnya. (mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads