Tertinggi Dalam Sejarahnya
Laba Bersih Astra Rp 5,4 T 2004
Senin, 21 Mar 2005 16:39 WIB
Jakarta - PT Astra International Tbk (ASII) dan anak perusahaannya mencatat laba bersih tahun 2004 naik 22,3 persen menjadi Rp 5,4 triliun. Pencapaian laba bersih itu merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah perseroan, dibandingkan tahun 2003 sebesar Rp 4,4 triliun. Sedangkan penghasilan bersih tahun 2004 sebesar Rp 44,3 triliun meningkat jauh dengan kenaikan 40,7 persen dibandingkan tahun 2003 yang sebesar Rp 31,5 triliun. Peningkatan tersebut didorong pertumbuhan usaha otomotif yang didukung tingginya minat beli konsumen dan suksesnya peluncuran model kendaraan baru. Pertumbuhan yang menggembirakan juga terlihat dari bidang usaha jasa keuangan, kelapa sawit dan alat berat. Laba kotor perseroan tumbuh 34,3 persen dari Rp 7,7 triliun pada tahun 2003 menjadi Rp 10,3 triliun ditahun 2004. Sebagian peningkatan ini diperoleh dari kontribusi PT United Tractors Tbk (UNTR), anak perusahaan di bidang usaha alat berat, yang sejak bulan Juni 2004 dikonsolidasikan ke dalam perseroan. Demikian pula dengan laba usaha yang meningkat 43 persen dari Rp 3,4 triliun pada tahun 2003 menjadi Rp 4,9 triliun di tahun 2004 karena didukung oleh peningkatan kontribusi dari anak perusahaan yang terkonsolidasi. Bagian atas laba bersih perusahaan asosiasi dan perusahaan yang dikelola secara bersama-sama (jointly controlled entities) tumbuh sebesar 12,2 persen menjadi Rp 2,1 triliun di tahun 2004. "Meningkatnya kinerja Astra tahun ini berkat kondisi ekonomi Indonesia yang membaik serta strategi usaha Perseroan yang tepat. Hal-hal tersebut didukung oleh komitmen dari manajemen dan karyawan Grup Astra untuk dapat memberikan hanya yang terbaik kepada pelanggan dan senantiasa berupaya untuk menghasilkan produk-produk yang berkualitas," ujar Budi Setiadharma, Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk dalam siaran pers, Senin,(21/3/2005). Pada tahun 2004, Astra juga membukukan penghasilan lain-lain sebesar Rp 1,1 triliun menurun 39,5 persen dibandingkan Rp 1,8 triliun di tahun 2003. Hal ini disebabkan adanya penurunan dalam keuntungan dari penjualan investasi. Hal ini karena perseroan telah merestrukturisasi bisnis Toyota di tahun 2003 dengan melepaskan 46 persen kepemilikannya di Toyota Motor Manufacturing Indonesia dengan sebesar Rp 1,5 triliun. Sedangkan keuntungan dalam penjualan investasi pada tahun 2004 hanya diperoleh dari sisa penjualan PT Pramindo Ikat Nusantara sebesar Rp 246 miliar dan divestasi PT Berau Coal sebesar Rp 378 miliar. Kuasai 45 Persen Pasar Mobil Budi juga menjelaskan, kondisi makro Indonesia relatif menggembirakan pada tahun 2004. Terlihat dari total pasar mobil Indonesia pada tahun 2004 mencapai 483.283 unit atau naik 36,3 persen dibandingkan tahun 2003. Pada tahun 2004, Perseroan menjual 217.431 unit sehingga pangsa pasar Astra membaik dari 41,5 persen menjadi 45 persen yang didukung oleh penjualan Daihatsu Xenia, Toyota Avanza dan Toyota Kijang Innova. Sedangkan pertumbuhan pasar sepeda motor pada tahun 2004 meningkat 38,3 persen menjadi 3.887.675 unit dibandingkan tahun 2003. Astra, melalui sepeda motor Honda, mampu menjual 2.035.711 unit meningkat 29,1 persen dibandingkan penjualan 2003. Kendati Honda masih memimpin pasar sepeda motor, pangsa pasarnya sedikit menurun dari 56,1 persen menjadi 52,4 persen akibat keterbatasan kapasitas produksi. Maka itu kata Budi, untuk memenuhi permintaan konsumen yang tinggi, PT Astra Honda Motor telah mulai membangun sebuah pabrik baru di Cibitung guna meningkatkan kapasitas produksinya dari yang saat ini sebesar 2 juta unit menjadi 3 juta unit per tahun. Pabrik tersebut diharapkan dapat berproduksi secara penuh pada akhir tahun 2005. Secara keseluruhan, bidang usaha otomotif menyumbang Rp 30,6 triliun pada tahun 2004 naik 19,9 persen dibandingkan Rp 25,6 triliun pada tahun sebelumnya. Bidang usaha pembiayaan mobil dan sepeda motor juga mengalami pertumbuhan lebih pesat daripada pasar otomotif. Pada tahun 2004, total jumlah pembiayaan mobil meningkat sebesar 62,4 persen menjadi Rp 10,5 triliun dengan total unit pembiayaan meningkat dari 69.670 unit di tahun 2003 menjadi 108.856 unit pada tahun 2004. Hal yang sama dialami oleh pembiayaan sepeda motor yang melonjak 66,3 persen menjadi Rp 7,9 triliun pada tahun 2004. Total unit pembiayaan sepeda motor bertumbuh 68,1 persen dari 516.259 unit pada tahun 2003, menjadi 885.826 unit di tahun 2004. Agribisnis dan Alat Berat Sepanjang 2004, bidang usaha agribisnis menunjukkan kinerja yang lebih baik. Kenaikan hasil agribisnis didukung oleh peningkatan produktivitas yang disebabkan oleh peningkatan hasil lahan perkebunan dan kenaikan tingkat ekstraksi Tandan Buah Segar dan perbaikan harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO). Volume penjualan CPO bertumbuh 28,4 persen dari 561.505 ton pada tahun 2003 menjadi 721.085 ton di tahun 2004, sementara rata-rata harga jual CPO naik 9,3 persen dari Rp 3.421 per kilogram pada tahun 2003 menjadi Rp 3.740 per kilogram di tahun 2004. Peningkatan kinerja tersebut mendorong penjualan agribisnis meningkat sebesar 36,5 persen dari Rp 2,5 triliun pada tahun 2003 menjadi Rp 3,5 triliun di tahun 2004. Divisi alat berat menyumbangkan pertumbuhan penghasilan yang besar akibat dari kenaikan penjualan Komatsu dan produksi batu bara. Pada tahun 2004, total penjualan unit Komatsu meningkat pesat sebesar 76,7 persen menjadi 1,619 unit, sementara penghasilan bersih dari divisi ini memberikan kontribusi sebesar Rp 6,0 triliun.
(qom/)











































