Penandatanganan dilakukan oleh Sunil Jain, CEO Max Power Bangladesh dan Mustofa Kamal Zulkarnain, COO Operation & Maintenance (O&M) Business PT Sumberdaya Sewatama didampingi oleh Takahasi Nagai dari IHI sebagai mitra LTSA Perseroan, baru-baru ini di Ghorashal, Banglades.
"Dalam kontrak kerja sama ini, kami akan mengoperasikan dan melakukan pemeliharaan PLTG milik Max Power selama 5 tahun hingga 2021," ujar Mustofa Kamal Zulkarnain dalam keterangan resminya, Kamis (23/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adanya kerja sama ini menambah deretan panjang proyek perawatan dan pengoperasian pembangkit listrik yang ditangani Sewatama. Sejak tahun 2012, divisi O&M Sewatama sudah menangani PLTG berkapasitas 110 MW di Gunung Megang dan PLTG Borang berkapasitas 60 MW di Sumatra Selatan.
Selain itu, juga menangani sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di pelosok Tanah Air. Divisi ini juga sudah mengoperasikan dan melakukan perawatan Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batu bara di Aceh yang dimiliki PT Energi Alamraya Semesta (EAS) dengan kapasitas 15 MW.
"Kami juga mengoperasikan beberapa PLTD di pelosok negeri. Beberapa di antaranya PLTD di Wasior dan Bovend Digoel, keduanya di Papua. Adanya kontrak baru ini menambah keyakinan kami bahwa Perseroan terbukti mampu mencetak generasi Indonesia unggul yang dapat bersaing dalam kancah internasional dan kami sangat bersyukur," papar Mustofa.
Langkah Strategis
Atas proyek ini, Yovie Priadi, Direktur Utama PT Sumberdaya Sewatama yakin Perseroan bisa terus berkembang di masa mendatang.
"Hal ini sesuai dengan strategi Perseroan yang sudah dicanangkan sejak beberapa tahun belakangan, yaitu mengembangkan bisnis ketenagalistrikan secara menyeluruh bukan hanya di satu lini bisnis saja," ujarnya.
Oleh karena itu, secara perlahan Perseroan mulai mewujudkan sejumlah strategi tersebut.
"Salah satu langkah yang sudah kami lakukan dengan merealisasikan sejumlah proyek ketenagalistrikan di luar bisnis temporary power. Yaitu pengembangan bisnis operation & maintenance dan mewujudkan pembangkit listrik dari tenaga baru terbarukan," ungkap Yovie.
Yovie melanjutkan, Sewatama juga mulai melirik industri listrik di luar Indonesia. Sebelumnya, Sewatama sudah mengoperasikan pembangkit listrik di Thailand dan kini Banglades.
"Kami juga sedang mempelajari kemungkinan untuk masuk ke negara di kawasan Asia lain," tambahnya.
Ia menyebutkan, dengan adanya kontrak baru dengan perusahaan di luar Indonesia, bisa meningkatkan pendapatan Perseroan. Mengingat transaksi dilakukan dengan menggunakan kurs dolar AS.
Langkah lain yang dilakukan Perseroan, yaitu terus melanjutkan proyek pembangkitan tenaga listrik baik dari tenaga thermal seperti batubara, memperbanyak proyek berbasis clean energy, seperti gas maupun cogeneration maupun dari energi baru terbarukan sebagai langkah diversifikasi menuju portofolio bisnis yang seimbang. Hal ini sejalan dengan visi Perseroan yang akan menyeimbangkan lini bisnisnya.
"Strategi kami untuk bisnis temporary power, akan tetap mempertahankan menjadi pemimpin pasar," sebut Yovie.
Hal ini dilakukan agar Perseroan semakin memantapkan posisinya di industri ketenagalistrikan yang sudah digeluti sejak 24 tahun lalu. Pengembangan lini bisnis non-temporary power sudah direncanakan sejak tahun 2008 lalu.
"Visi kami sejalan dengan visi induk perusahaan kami, PT ABM Investama Tbk yang ingin ikut berpartisipasi dalam mendukung program pemerintah dalam pengadaan listrik 35.000 MW," ujar Yovie.
Hasilnya kini mulai terlihat dengan adanya sejumlah kerja sama dengan Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit nasional maupun internasional untuk memanfaatkan limbah cair sawit yang diubah menjadi pembangkit tenaga listrik. Pada April tahun ini, Perseroan sudah menandatangani Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PT PLN, Persero untuk pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) di Kalimantan Selatan dengan kapasitas 2,4 MW.
Sedangkan untuk pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTMH) yang juga sedang dikembangkan Perseroan di Sulawesi Selatan, kini sudah mendekati tahap PJBL dengan PT PLN. Setelah adanya penandatangan itu, kemudian keduanya memasuki tahap konstruksi.
"Untuk kedua pembangkit, baik PLTBg maupun PLTMH tersebut kami mendapat suntikan dana dari PT Indonesia Infrastruktur Finance yang kesepakatannya ditandatangani Desember 2015 lalu. Mudah-mudahan, setelah ditandatangani PJBL ini, bisa segera konstruksi akhir tahun ini dan mulai beroperasi akhir tahun 2017," papar Yovie. (drk/feb)











































