Meski demikian, pendapatan bersih konsolidasian tercatat sebesar Rp 1,213 triliun atau meningkat 27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bruto konsolidasian tercatat Rp 341 miliar atau meningkat 7% dibandingkan periode yang sama tahun 2015.
Beban usaha penjualan dan beban umum dan administrasi konsolidasian hanya meningkat 5%, sehingga menghasilkan peningkatan laba usaha sebesar 9%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan unit usaha solusi dokumen membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 680 miliar atau naik 2%, termasuk kinerja entitas anak PT Astragraphia Xprins Indonesia yang sudah mulai beroperasi secara penuh di tahun 2016 ini.
"Kondisi perekonomian Indonesia yang masih stagnan menyebabkan para pelaku bisnis melakukan penghematan dalam berinvestasi, namun kami tetap positif atas pencapaian pertumbuhan bisnis Astragraphia di semester I-2016 ini," terang Presiden Direktur Astragraphia Harry Halim saat jumpa pers di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (3/8/2016).
Astragraphia telah melakukan investasi sebesar Rp 160 miliar sepanjang semester I-2016, 75% untuk keperluan investasi mesin sewa dan sisanya untuk keperluan internal.
Sampai dengan Juni 2016, Astragraphia telah meluncurkan beberapa produk baru untuk portofolio office, production, dan printer, serta menambah satu kantor cabang baru di Karawang untuk memperluas jangkauan ke pelanggan. Sehingga jumlah kantor cabang Astragraphia menjadi 32 kantor cabang dan 92 titik layanan yang mencakup 514 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Era Digital, Astragraphia Optimistis Bisnis Percetakan Tetap Tumbuh
Perseroan tetap optimistis dalam perjalanan bisnisnya ke depan meskipun belakangan ini mulai ramai era digital. Era digital yang tidak lagi membutuhkan kertas dalam jumlah yang banyak membuat anak perusahaan Astra yang bergerak di bidang teknologi dan percetakan ini terus berinovasi agar tetap tumbuh.
"Teknologi kita anak usaha Astra di bidang teknologi informasi tidak pernah berhenti untuk berinovasi terkait bagaimana me-leverage perseroan untuk naik," jelas Harry.
Untuk tetap bertahan di era digital, salah satu perusahaan percetakan terbesar di Indonesia menyebutkan bahwa era digital tidak mampu menekan pertumbuhan industri percetakan di tanah air. Setiap perusahaan dan instansi lainnya masih membutuhkan perusahaan percetakan untuk mencetak dokumen perusahaan hingga kebutuhan lainnya.
"Antisipasi paperless, jargon ini sudah lama. Kita bisa lihat sampai saat ini pertumbuhan paper percetakan tidak akan berhenti. Printing is a life. Pencetakan tidak akan pernah habis. Bagaimana orang mulai mengelola sistem kalau dokumennya nggak ada. Itu pasti akan dicetak, tidak akan setop," jelas Harry.
Hingga akhir tahun 2016, perseroan menargetkan pertumbuhan ke angka double digit atau di atas 10%.
"Outlook-nya masih berusaha at the end positif. Saya pikir berusaha eksis dengan tumbuh double digit," tutup Harry. (drk/drk)











































