Target dana yang terkumpul dari IPO ini sebanyak Rp 989 miliar. Rencananya, uang yang terkumpul, sebesar 40% atau sekitar Rp 395,6 miliar akan digunakan untuk membangun 10 filling station atau stasiun pengisian gas di tahun ini.
"40% untuk bayar utang, 40% untuk ekspansi menambah kapasitas filling station jadi kita membangun network, kita mau ngembangin sampai 200 network, 20% lagi untuk modal kerja," ujar Wakil Direktur Utama AGI, Rachmat Harson, di Pasific Place, Senin (22/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Plant sudah selesai, tapi kalau untuk filling station kira-kira sekitar US$ 300 ribu- US$ 1 juta, tergantung tanah dan bangunan, kalau rent lebih murah, kalau akuisisi tanah segala macam lebih mahal di berbagai provinsi di Indonesia sih filling station-nya kayak Kalimantan, Sumatera, Sulawesi. Saat ini ada 80 filling station, target tahun ini tambah 10 filling stations," kata Rachmat.
Capex perusahaan di tahun ini sekitar Rp 500 miliar. Ia memproyeksikan pertumbuhan market share sekitar 20-30% dalam 5 tahun ke depan, dan kenaikan laba 10-15%. Ia menyebut, dana yang akan digunakan dari IPO ini juga digunakan untuk meningkatkan profit.
"Dari dana yang kita raup cukup untuk ekspansi, tapi kita tujuan dari IPO ini untuk meningkatkan profit. Pendapatan paling besar di sektor retail 30 persen, medical, infrastruktur, jalan-jalan itu menggunakan kita," kata Rachmat.
Utang perusahaan hingga kini sebesar 1,4 kali modal sehingga perseroan ingin menurunkan utang tersebut. Namun, AGI tidak merinci berapa jumlah utangnya.
"Utang sekitar 1,4 leverage, dari dana IPO akan digunakan 40% untuk menurunkan utang, pasti ada dana dari internal juga. Kalau 40% dana dari IPO kita tergantung dari besaran yang masuk. Kita nggak bisa nyebutin angkanya karena kan belum fix ya, tapi kita akan gunakan 40% dari fasilitasnya IPO itu," ujar Direktur Keuangan AGI, Nini Liemijanto.
Target Penjualan Rp 1,8 Triliun
PT Aneka Gas Industri Tbk (AGI) menargetkan penjualan hingga akhir tahun sekitar Rp 1,8 triliun. Perseroan akan mengembangkan pembangunan filling station atau stasiun pengisian gas hingga sektor kesehatan.
Direktur Keuangan AGI, Nini Liemijanto menyebut, hingga Semester I-2016, perusahaan telah mencapai penjualan Rp 800 miliar. Untuk mencapai target perusahaan sekitar Rp 1,8 triliun, perusahaan akan membangun sekitar 10 filling station lagi dan mengembangkan sektor kesehatan.
"Target penjualan akhir tahun di atas Rp 1,8 triliun, sampai first half sudah sekitar Rp 800. Untuk mencapai target bisa lewat pengembangan di filling station, pengembangan di sektor health care kan kita juga kontraktor menangani jasa instalasi di RS-RS medical. Jadi, dengan pengembangan dari BPJS, infrastruktur kita harapkan pertumbuhan industri untuk mem-boost kita, mencapai target kita," imbuh Nini.
AGI menjual produk gas seperti gas udara (oksigen, nitrogen, dan argon), gas campuran, gas sintetis, gas khusus, gas campuran,dan bahan bakar gas. Saat ini AGI telah memiliki 44 plant dan sekitar 80 stasiun pengisian gas yang tersebar di 22 provinsi Indonesia.
Punya Utang Rp 3 Triliun
Laporan semester I-2016, perseroan mempunyai utang senilai Rp 3,21 triliun, naik 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2015 senilai Rp 3,07 triliun. Utang tersebut terdiri dari utang jangka panjang dan jangka pendek.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, yang dikutip Senin (22/8/2016), jumlah aset AGI senilai Rp 5,28 triliun, naik 6,6% dari sebelumnya pada semester I-2015 sejumlah Rp 4,95 triliun.
Sementara itu, utang jangka pendek AGI yang jatuh tempo dalam satu tahun senilai Rp 1,004 triliun, naik 5% dari sebelumnya pada periode yang sama sebesar Rp 954,63 miliar. Sementara utang jangka panjang AGI pada semester I-2016 senilai Rp 3,21 triliun atau naik 4% dari sebelumnya pada periode yang sama senilai Rp 3,07 triliun.
AGI juga mencatatkan laba bersih pada semester I-2016 sebesar Rp 36,83 miliar, naik sekitar 26,26% dari sebelumnya pada semester I-2015 sebesar Rp 25,746 miliar. AGI berhasil membukukan pendapatan dari penjualan bersih sebesar Rp 815,22 miliar, naik sebesar 25% dari sebelumnya pada periode yang sama senilai Rp 651,45 miliar. (drk/drk)











































