"Kalau dulu kan ada 430.000 pada tahun 2015 akhir, kalau sekarang 450.000 itu sudah ada, tapi kita belum bicara yang termasuk di reksa dana. Reksa dana kan juga meningkat," kata Nurhaida, saat ditemui di Parkir Lot 7 dan 8 SCBD, Jakarta Selatan, Minggu (28/8/2016).
"Memang butuh waktu, tapi kalau kita lihat setiap kita lakukan sosialisasi, misalnya ke mahasiswa, memang ada pembukaan rekening, kadang-kadang 5.000 kadang 10.000," kata Nurhaida.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Investasi retail selalu ada. Sosialisi kita tidak putus-putus karena jumlah investor retail yang masih minim. Ini karena pemahaman terhadap pasar modal yang masih berkurang. Sosialisasi dilakukan oleh OJK dan Bursa Efek juga," kata Nurhaida.
Untuk menambah jumlah investor retail, Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio menyebu,t ada beberapa langkah. Misalnya memperkuat broker, menambah produk, relaksasi margin, dan membuka akses distribusi, contoh BEI mempunyai 200 galeri untuk melakukan sosialisasi.
"Kita punya 3.000 seminar setahun, 200 galeri tiap hari warga datang. Di bursa bisa datang 200 orang datang," ujar Tito.
Berbeda dengan Nurhaida, Tito menyebut, hingga saat ini ada 490.000 investor retail yang terdaftar di saham dan di unit dari reksa dana ada 250.000. Tito menyebut target BEI merupakan frekuensi market kapitalisasi, bukan di jumlah investor.
"Sampai sekarang kita ada 490.000 SID terdaftar di saham dan unit dari reksa dana ada 250.000. Target kita adalah di frekuensi market kapitalisasi bukan di jumlah investor," ujar Tito. (drk/drk)











































