BRI Raup Laba Bersih Rp 3,63 Triliun

BRI Raup Laba Bersih Rp 3,63 Triliun

- detikFinance
Selasa, 29 Mar 2005 17:05 WIB
Jakarta - PT Bank Rayat Indonesia tbk membukukan laba bersih tahun 2004 sebesar Rp 3,63 triliun naik 40,89 persen dibandingkan tahun 2003 yang sebesar Rp 2,58 triliun. Naiknya laba bersih tidak terlepas dari meningkatnya pendapatan bunga bersih menjadi Rp 10,71 triliun dibandingkan tahun lalu Rp 8,03 triliun.Demikian diungkapkan Dirut BRI Rudjito dalam jumpa pers Laporan Keuangan 2004 di kantornya Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (29/3/2005).Menurunya, total aset BRI tahun 2004 naik menjadi 107,04 triliun dibandingkan tahun 2003 Rp 94,71 triliun. Demikian juga dengan modal BRI meningkat dari Rp 8,45 triliun pada tahun 2003 menjadi Rp 12,45 triliun. "Artinya dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (API) BRI sudah menjadi bank nasional dengan modal di atas Rp 10 triliun," katanyaTotal kredit outstanding pada tahun 2004 mencapai Rp 62,37 triliun dibandingkan tahun 2003 yang sebesar Rp 47,6 triliun. Sehingga pinjaman baru yang diberikan sebesar Rp 14,77 triliun dari total kredit sebesar 86,44 persen disalurkan kepada sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Sedangkan untuk kredit korporasi hanya sekitar 13,56 persen.Dana pihak ketiga pada tahun 2004 mencapai Rp 82,4 triliun dibanding tahun 2003 yang sebesar Rp 76,32 triliun. Dana pihak ketiga tersebut terutama disimpan di tabungan sebesar 54,09 persen, deposito 29,69 persen, dan giro sebesar 16,22 persen. Sementara itu posisi obligasi pemerintah tahun 2004 sebesar Rp 23,95 triliun, turun dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 27,58 triliun.Kinerja keuangan lainnya, BRI mencatat CAR sebesar 19,86 persen dibandingkan tahun 2003 sebesar 19,46 persen. Sedangkan CAR dengan memperhitungkan risiko pasar sebesar 17,89 persen dibanding tahun 2003 sebesar 19,64 persen.Loan deposito ratio naik 75,69 persen dibandingkan tahun lalu sebesar 62,37 persen sedangkan NPL per tahun 2004 sebesar 4,19 persen turun dibanding tahun 2003 sebesar 6,03 persen. "Penurunan NPL karena adanya ekspansi kredit yang tinggi juga karena secara absolut terdapat penurunan kredit bermasalah," demikian Rudjito. (mar/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads