"Isu The Fed kan masih terus bergulir, belum ada kepastian. Wajar rupiah melemah, pelemahannya masih wajar. Kita perkirakan dolar bisa naik ke Rp 13.300, bisa juga sampai Rp 13.500," ujar Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo kepada detikFinance, Rabu (14/9/2016).
Dihubungi terpisah, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) David Sumual mengungkapkan, pernyataan para petinggi The Fed terus berubah-ubah sehingga menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan global dan emerging market termasuk Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain ketidakpastian kenaikan The Fed, kondisi perekonomian global juga belum pulih. Harga minyak dunia juga turun. Meski demikian, kondisi di dalam negeri paling tidak membaik meskipun masih minim sentimen positif.
Untuk itu, pergerakan rupiah masih akan sangat bergantung pada keputusan The Fed. David memperkirakan, dolar AS akan bergerak ke level Rp 13.250.
"Nanti 21 September pengumuman The Fed, itu juga bertepatan dengan pengumuman BI rate, angka perdagangan. BI siang, The Fed malam. Menurut perkiraan, probability-nya The Fed naikkan suku bunga itu 30%. Kita perkirakan dolar Rp 13.250," pungkasnya. (drk/hns)











































