PGN Tunda Terbitkan Obligasi

Pasar Belum Kondusif

PGN Tunda Terbitkan Obligasi

- detikFinance
Kamis, 31 Mar 2005 13:28 WIB
Jakarta - PT Perusahaan Gas Negara tbk (PGN) menunda rencana penerbitan obligasi senilai Rp 1,5 triliun yang rencananya pada kuartal I tahun ini dengan alasan pasar global yang belum kondusif. Namun perseroan tetap memasukkan rencana penerbitan obligasi tersebut pada tahun ini."Kita dulu memang menargetkan kuartal I atau paling lambat Maret diterbitkan. Tetapi karena pasar global yang berubah, kita akan melihat situasinya terlebih dahulu dalam 1-2 bulan ini, karena kita juga akan melihat dulu bagaimana penjualan obligasi pemerintah," kat Dirut PGN WMP Simanjuntak dalam konferensi pers di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (31/3/2005).Sementara direktur keuangan PGN Djoko Pramono mengatakan, kemungkinan obligasi PGN itu akan diterbitkan dalam 2 mata uang yakni Rupiah atau dolar AS. Dana dari penerbitan obligasi itu menurut Djoko, rencananya akan digunakan untuk membiayai proyek distribusi atau pipanisasi gas di wilayah Jawa Barat. Menurut Djoko, sampai saat ini perseroan masih memiliki dana yang cukup untuk melanjutkan proyek tersebut terutama dana dari sisa IPO, penerbitan Euro Bond dan perolehan tahun 2004. Neraca Keuangan dalam DolarLebih jauh Djoko menyampaikan, bahwa saat perseroan belum memperoleh ijin dari pemerintah terkait rencana membuat neraca keuangan dalam mata uang dolar. Menurut Djoko, pemerintah hanya mengijinkan neraca keuangan dalam bentuk dolar hanya untuk perusahaan PMA, bagi hasil dan kontrak karya. "Karena belum disetujui, maka jika Rupiah melemah, kita masih akan mengalami rugi kurs. Dirjen Pajak menolak memberikan persetujuan karena ini nanti akan terkait dengan penghitungan pajak yang harus diberikan kepada pemerintah," ujar Djoko.Maka itu, lanjut dia, PGN sedang mengkaji kemungkinan membuat dua neraca keuangan untuk kebutuhan komersil dalam bentuk dolar dan kebutuhan fiskal dalam mata uang Rupiah.PGN per tahun 2004 mencatat penurunan laba bersih 6,8 persen menjadi Rp 474,3 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini sebagai dampak dari terdepresiasinya Rupiah selama tahun 2004 yang mengakibatkan rugi kurs translasi sebesar Rp 242 miliar. Sementara pendapatan tahun 2004 meningkat 23,9 persen menjadi Rp 4,4 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian pula dengan laba usaha tahun 2004 naik 22 persen menjadi Rp 997,8 miliar dibanding tahun sebelumnya. "Peningkatan pendapatan dan laba usaha dipengaruhi kenaikan harga jual rata-rata gas ke pelanggan industri sekitar 8 persen pada tahun 2004," tukas Djoko. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads