"Nanti tahun depan, maksimal semester 1 yang dilepas sekitar 30-40 persen," kata Dirut PT Wijaya Karya Bangunan Gedung (WIKA Gedung), Ridwan Abdul Muthalib, di Patra Jasa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (28/9/2016).
Nantinya dana dari IPO tersebut untuk modal kerja dan investasi. Saat ini aset Wika Gedung ada sekitar Rp 300 miliar per Agustus 2016.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disamping itu, jumlah nilai kontrak per Agustus 2016 yang didapatkan Wika Gedung sebanyak Rp 4,5 triliun. Paling banyak kontrak tersebut datang dari bisnis gedung tinggi yang kebanyakan ada di Jakarta, Surabaya, Bandung.
"Paling banyak di Jawa, porsinya di Jakarta 40 persen, sisanya di daerah," kata Ridwan.
Ia menargetkan hingga akhir tahun 2016 nilai kontrak baru mencapai Rp 6 triliun. Kontrak baru tersebut ditargetkan berasal dari Jawa, Sumatera, Bali, dan Lombok yang memfokuskan pada bisnis pembangunan gedung.
"Masih banyak ke apartemen dan commercial building," kata Ridwan.
Saat ini pertumbuhan properti masih melambat, akan tetapi ia yakin akan bergerak positif. Meskipun, saat ini pertumbuhannya belum bergerak cepat. Ia memperkirakan awal tahun 2017 pertumbuhan properti cukup baik.
"Saya rasa di semester pertama, tapi kita optimistis masih cukup bagus," ujar Ridwan. (hns/hns)











































