BBM Naik, Indocement Naikkan Harga Semen 10-15 Persen

BBM Naik, Indocement Naikkan Harga Semen 10-15 Persen

- detikFinance
Jumat, 01 Apr 2005 16:54 WIB
Jakarta - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) akan menaikan harga jual semen sebesar 10 sampai 15 persen, terkait dengan naiknya biaya transportasi akibat menigkatnya harga BBM. Biaya energi yang dikeluarkan perseroan mencapai 50 persen dari total biaya produksi. "Dengan kenaikan harga jual sekitar 10 sampai 15 persen, sebenarnya tidak cukup untuk mempertahankan marjin keuntungan Indocement. Maka itu kita akan meningkatkan efisiensi yang agar dapat mempertahankan marjin keuntungan," kata Christian Kartawijaya, Direktur Keuangan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam paparan publik di Bursa Efek Jakarta, Jumat (1/4/2005). Menurut Christian, dengan menaikan harga jual perseroan dapat mempertahankan pangsa pasarnya yang saat ini sebesar 30 persen dari total penjualan nasional. Permintaan konsumsi semen domestik pada tahun 2005 diperkirakan tumbuh sekitar 10 persen. Asumsi kenaikan tersebut selain untuk kebutuhan konsumen juga terkait dengan rencana pemerintah yang menggalakkan sektor infrastruktur dengan dana sekitar Rp 700 triliun sampai Rp 1.000 triliun. Saat ini produksi semen INTP 12,4 juta ton per tahun dari kapasitas terpasang yang dimiliki 16,5 juta ton per tahun. Sebagain besar produksi semen yakni sebesar 9,2 juta ton untuk pasar lokal sedangkan ekspor tahun 2004 sebesar 3,2 juta ton. "Kalau kebutuhan dalam negeri tahun ini sangat besar kita akan menurunkan penjualan ekspor tahun ini sebesar 1 juta ton menjadi 2,2 juta ton," ujar Christian. Menurut Christian kebutuhan semen dalam negeri saat ini sebesar 32 juta ton per tahun lebih sedangkan kapasitas produksi semen nasional mencapai 47 ton per tahun. Indocement memproyeksikan pertumbuhan penjualan tahun 2004 naik 8-10 persen dibandingkan tahun 2004. Untuk tahun 2005, perseroan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 329 miliar. Capex ini untuk penggantian dan perbaikan mesin serta meningkatkan produktivitas perseroan. Indocement pada tahun 2005 juga akan melakukan refinancing (pembiayaan kembali) sebesar US$ 150 juta yang dilakukan dengan cara hedging (lindung nilai). Saat ini posisi utang perseroan sebesar US$ 474,6 juta. Perseroan melakukan pembayaran utang sebesar US$ 42 juta per tahun yang pembayarannya dilakukan per kuartal sekitar US$ 10 juta mulai April sampai Januari. Utang terbesar perseroan kepada Marubeni dan Heidelberg Finance yang masing-masing jatuh tempo 2010 dan 2012. Pada tahun 2004 Indocement mencatat pendapatan bersih Rp 4,616 triliun naik 11 persen dibandingkan tahun 2003 sebesar Rp 4,158 triliun. Sedangkan laba bersih perseroan tahun 2004 sebesar Rp 116 miliar turun 83 persen dibandingkan tahun 2003 yang sebesar Rp 670 miliar. Turunnya laba bersih itu karena adanya rugi kurs tahun 2004 sebesar Rp 498 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat laba kurs sebesar Rp 38 miliar. Menurut Christian, untuk mengurangi rugi kurs tahun ini perseroan melakukan hedging sebesar US$ 150 juta. "Dengan hedging ini bisa mengurangi rugi kurs 34 persen," ujarnya. Komposisi pemegang saham Indocement saat ini adalah HeidelbergCement Group 65 persen, Salim Group 13 persen dan publik 22 persen. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads