Untuk Obligasi I Angkasa Pura I tahun 2016, ditargetkan dapat menghimpun dana sebanyak-banyaknya sebesar Rp 2,5 triliun, dan Penawaran Umum Sukuk Ijarah I Angkasa Pura I tahun 2016 dengan jumlah pokok sebesar Rp 500 miliar.
Obligasi dan Sukuk Ijarah ini diterbitkan dalam tiga seri, di mana Seri A berjangka waktu 5 tahun dengan tingkat kupon obligasi 7,45%-8,20% per tahun dan indikasi tingkat bagi hasil sukuk ijarah 7,45%-8,20% per tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seri C berjangka waktu 10 tahun dengan indikasi tingkat kupon obligasi 8,10%-8,85% per tahun dan indikasi tingkat bagi hasil sukuk ijarah 8,10%-8,85% per tahun.
Kupon obligasi dibayarkan setiap 3 bulan sesuai dengan tanggal pembayaran masing-masing.
Obligasi dan Sukuk Ijarah ini mendapatkan peringkat idaaa dan idaaasy dari PT pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi, yaitu PT Bahana Securities, PT BCA Securitas, dan PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas.
Dana yang diperoleh dari penawaran umum obligasi dan sukuk ijarah ini telah dikurangi dengan biaya emisi, sekitar 75% akan digunakan untuk pengembangan 5 bandara yaitu Bandara Baru Yogyakarta, Bandar Ahmad Yani, Bandara Syamsudin Noor, Bandara Juanda, dan Bandara Hasanudin. Sisanya 25% untuk investasi rutin.
"Pengalaman, track record, dalam manajemen operasional bandara serta profil perusahaan jasa kebandaraan yang baik, membuat Angkasa Pura I mendapatkan peringkat obligasi dan sukuk ijarah yang baik. Kami optimistis penawaran umum ini akan sukses," ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Sulistyo Wimbo Hardjito dalam Due Diligence Meeting dan Public Expose Perseroan, di The Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta, Senin (17/10/2016).
Dukungan yang kuat dari pemerintah terhadap Angkasa Pura I dapat terlihat dari pemerintah yang mempertahankan kepemilikannya 100% di perseroan dan suntikan modal yang diberikan berupa penyertaan aset dalam 5 tahun terakhir.
"Hal ini dilakukan pemerintah karena perseroan ini merupakan BUMN strategis dan pemain kunci yang menyediakan infrastruktur bandara dalam konektivitas antar kepulauan di bagian tengah dan timur Indonesia," ucap dia.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan dan Teknologi Informasi PT Angkasa Pura I, Novrihandri menambahkan, saat ini, perseroan sedang mengurangi ketergantungan pendapatan dari aeronaumatika dengan mengoptimalkam pendapatan dari non-aeronaumatika, seperti pendapatan dari konsensi, penyewaaan dan pergudangan, serta melalui entitas anak yang menunjang pengelolaan bandara dan aset-aset yang dimiliki perseroan.
Pada Juni 2016, komposisi pendapatan aeronaumatika terhadap pendapatan usaha turun menjadi 59,88% dari sebelumnya 2011 sebesar 76,67%, sedangkan komposisi pendapatan nonaeronaumatika naik menjadi 42,12% dari sebelumnya pada 2011 sebesar 23,33%.
Angkasa Pura I memiliki rasio keuangan yang sehat yaitu current ratio pada Juni 2016 sebesar 1,23x. ROA dan ROE Angkasa Pura I tetap stabil terjaga di atas 5,0x. Di sisi lain, debt to equity ratio meningkat dikarenakan Angkasa Pura I mendapatkan pendanaan dari pihak ketiga sejak tahun 2013.
"Tapi itu masih baik," imbuhnya. (drk/drk)











































