Melemahnya IHSG mulai terjadi sejak pembukaan perdagangan Jumat (11/11/2016) pasca menangnya Donald Trump pada pemilu Amerika Serikat (AS).
Menurut Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio, anjloknya IHSG dua hari belakangan ini lebih disebabkan karena ketidakpastian global atas janji-janji kampanye Trump. Pelaku pasar memilih untuk menarik dananya dari BEI, padahal janji-janji kampanye Trump belum tentu diterapkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dirinya mengatakan, kinerja emiten di BEI masuk dalam kategori baik. Bahkan pertumbuhan emiten yang tercatat di BEI rata-rata 15%.
Kenaikan IHSG sepanjang 2016 di BEI merupakan yang tertinggi kedua di dunia dibandingkan indeks pasar modal di negara-negara lain. Sehingga penurunan IHSG mendekati level 5.000 masih dianggap wajar.
"Perusahaan-perusahaan itu sebagai komoditas masih bagus-bagus hasilnya, growth-nya setahun masih di atas 15%. Artinya masih bagus, jadi kalau pun terjadi satu hal, kita juga naiknya paling tinggi," kata Tito.
Namun, di sisi lain, Tito tidak menampik adanya pengaruh kemenangan Trump terhadap melemahnya IHSG dan banyaknya investor asing yang melakukan penjualan saham. Padahal, dari sisi perusahaan di BEI, secara keseluruhan kinerjanya masih berjalan dengan baik.
"Psikologi benar terjadi Trump Effect, terjadi uncertainty, orang nggak berpikir jangka panjang jadi high cost. Fundamental semua saham commodity masih bagus, jadi kita nggak takut," tutur Tito. (drk/drk)











































