Angka penjualan ini sendiri didasari oleh asumsi pertumbuhan konsumsi nasional yang naik 4% setiap tahunnya.
"Tahun depan prediksi kita nasional tumbuh 4% konsumsinya, target kami sama untuk mempertahankan market share, kita harus tumbuh sama dengan nasional 4%, jadi target sales 4% juga," ujar Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia, Agung Wiharto di kantor PT Semen Indonesia, the East Tower, Jakarta, Selasa (15/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang harga domestik harganya antara Rp 750-780 ribu per ton. Harga jual sendiri sulit diprediksi. Tapi yang jelas kemungkinan untuk naik itu besar. Justru ada kecenderungan turun. Tapi tergantung demand-nya seperti apa. Itu akan menentukan harga jual. Tapi rasanya kalau melihat situasinya, harganya sulit untuk naik tahun depan. Tapi paling tidak tetaplah," tutur Agung.
Ia menambahkan, untuk mendorong pertumbuhan penjualan, perusahaan pelat merah tersebut akan meningkatkan produksi dengan akan mulai beroperasinya dua pabrik baru perusahaan yang berlokasi di Rembang, Jawa Tengah dan Indarung di Sumatera Barat.
Dengan adanya tambahan dua pabrik baru yang beroperasi tahun depan, maka kapasitas terpasang perusahaan akan bertambah menjadi 35 juta ton, dari kapasitas saat ini sebesar 29 juta ton.
"Tahun depan ada tambahan dari Rembang dan Indarung VI masing-masing 3 juta ton. Tapi karena pabrik baru nggak bisa produksi 100%, kapasitas terpasang kalau berdasarkan best practice 80% di tahun pertama. Jadi produksi ada tambahan sekitar 4 juta ton, dari sekarang 29 juta ton," ungkapnya.
Emiten berkode saham SMGR tersebut sendiri menargetkan penjualan semen sepanjang tahun ini tembus 26 juta ton. Target volume penjualan semen tersebut meningkat sekitar 1,5% dari realisasi penjualan semen pada 2015 sebanyak 25,97 juta ton. (dna/dna)











































