Setiap tahun, sesuai dengan aturan regulator PT Bursa Efek Indonesia, setiap emiten diwajibkan menggelar tatap muka dengan pemegang saham sebagai bagian dari keterbukaan perusahaan listing, baik lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), maupun lewat acara public expose.
Harapan yang selalu dipendam Bu Darmawan, setiap kesempatannya bertemu dengan direksi perusahaan, yakni mendengar paparan kinerja perusahaan yang membaik. Namun, wajah kecewa yang selalu dibawanya pulang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap saya datang, selalu rugi yang diumumin. Kapan ya bisa untung, biar saya bisa dapat dividen," katanya lagi.
Keluh kesah pada kinerja emiten produsen besi baja ini tak sendirian, usai meluapkan kekecewannya, puluhan pemegang saham lainnya yang hadir kompak mendukungnya.
"Iyah betul tuh," kata para beberapa pemegang saham.
Masih belum selesai mengungkapkan soal kinerja perseroan yang masih terseok-seok, Ibu Darmawan kembali meluapkan kekecewaan lainnya kepada direksi BNBR.
"Tolong lah, saham BNBR tidur di ICU sudah berapa tahun. Ayolah bagaimana caranya biar bisa naik, masa yang lain (perusahaan Grup Bakrie) seperti BUMI dan BMRS naik, BNBR nggak gerak juga, jadi nggak bisa dijual-jual," keluh Ibu Darmawan yang mengaku punya membeli saham BNBR Rp 2 miliar sejak tahun 2007 ini.
Saham BNBR memang sudah sejak lama hanya dihargai Rp 50 per lembar saham alias saham gocap.
Sementara itu, Direktur Utama BNBR, Bobby Gafur Umar, mengatakan penyebab harga saham perseroan yang belum juga beranjak dari level saham gocap lantaran faktor makro ekonomi, bukan fundamental perusaan.
"Karena faktor makro, bukan mikro. Kalau faktor mikro, di kami, fundamental sudah semakin kuat. Selain efisiensi, kita juga modernisasi mesin-mesin pabrik supaya efektifitasnya naik, sebelumnya di bawah 90%, sekarang 90-92%," jelas Bobby.
"Kita turunkan biaya-biaya, aset-aset yang nggak efisien, mesin tua, kita restrukturisasi. Sampai SDM kita ganti yang muda-muda, kita saat ini punya semangat baru," imbuhnya.
Menurut Bobby, sebenarnya fundamental perusahaan dianggap sudah lebih baik ketimbang tahun-tahun lalu. Apalagi perseroan terus berupaya mengurangi beban utang lewat sejumlah opsi ke kreditur lewat konversi saham. (dna/dna)










































