Pemilikan Aset Minim, Bagaimana Bakrie & Brother Dongkrak Kinerja Perusahaan?

Pemilikan Aset Minim, Bagaimana Bakrie & Brother Dongkrak Kinerja Perusahaan?

Muhammad Idris - detikFinance
Jumat, 25 Nov 2016 21:02 WIB
Pemilikan Aset Minim, Bagaimana Bakrie & Brother Dongkrak Kinerja Perusahaan?
Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Salah satu Grup Bakrie, PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), belum sepenuhnya menunjukkan kinerja apik. Selain masalah utang dengan beberapa kreditor, sahamnya pun masih belum bergerak dari golongan saham gocap alias Rp 50 per lembarnya.

Kendati demikian, Direktur Utama BNBR, Bobby Gafur Umar, melihat kinerja perseroan akan membaik dalam beberapa tahun mendatang. Salah satunya datang dari kepemilikan jalan tol Cimanggis-Cibitung yang segera rampung.

Bobby sangat percaya diri meskipun saat ini perusahaan hanya memegang sebagian kecil saham tol yang hampir rampung ini. Pasalnya, pada 13 Juli 2015, BNBR telah menjual 90% saham tol Cimanggis-Cibitung ke PT Waskita Toll Road, anak usaha PT Waskita Karya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita sudah punya satu jalan tol yang menghubungkan jalur keluar terpadat yakni Tol Jagorawi dengan traffic 320 ribu per hari kendaraan dan Cikampek 290 ribu per hari," jelas Bobby saat public expose di Bakrie Tower, Kuningan, Jakarta, Jumat (25/11/2016).

"Ini akan jadi Jakarta Outer Ring Road kedua, yang sekarang kan Tol TB Simatupang. Traffic-nya sangat menjanjikan. TB Simatupang saja 100 ribu per hari," tambahnya.

Sebagai informasi, porsi kepemilikan ruas Tol Cimanggis-Cibitung sendiri saat ini dipegang PT Waskita Toll Road dengan kepemilikan 90%. Sementara sisanya dipegang oleh BNBR dan PT Bakrie Toll Indonesia masing-masing 5%.

Bobby melanjutkan, selain jalan tol yang porsi kepemilikannya minim tersebut, proyek yang disebut-sebut bakal mengerek kinerja perseroan yakni proyek pipa gas Kalimantan-Jawa atau Kalija sepanjang 1.200 kilometer.

"Kalija panjangnya 1.200 kilometer, sudah terbangun 200 kilometer, bahkan pembangunannya lebih cepat 5 bulan dari target pemerintah, sekarang sudah mengalirkan gas dari Lapangan Gas Kepodang di Laut Jawa," jelas Bobby.

Namun demikian, perlu dicatat juga bahwa kepemilikan saham perusahaan di proyek ini juga tergolong minim. Menang tender tahun 2006, proyek ini sempat mangkrak hingga 8 tahun lamanya di tangan emiten berkode saham BNBR ini.

Baru setelah dikuasai sahamnya sebanyak 80% oleh PGN, proyek Kalija mulai bisa dibangun. Meski bisa dibangun dan mulai beroperasi, kontribusi pendapatan ke BNBR sangatlah minim mengingat saat ini perusahaan tinggal menguasai 20% proyek Kalija ini.

Namun Bobby optimistis, meskipun dengan share yang kecil, perusahaan tetap bisa mendulang sedikit keuntungan dari peningkatan konsumsi gas di masa depan.

"Apalagi di tahun 2025 pemerintah mengalokasikan 30% energi harus pakai gas. Sementara kalau pakai pakai kapal LNG dengan jarak di bawah 1.200 kilometer mahal, jadi penggunaan pipa gas akan terus meningkat," tandas Bobby. (dna/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads