Tambah Lahan Sawit 100-140 Hektar, Astra Agro Butuh Rp 3 T
Rabu, 06 Apr 2005 12:45 WIB
Jakarta - Perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Astra Agro Lestari tbk (AALI) membutuhkan dana Rp 3-3,5 triliun untuk menambah lahan seluas 100-140 ribu hektar. Rencananya, pengembangan lahan kelapa sawit ini akan dikerjakan dalam jangka waktu 5-7 tahun. "Kalau dilakukan secara bertahap, selama 5-7 tahun. Untuk jumlah dana tersebut kita bisa membiayai dari kas internal," kata wapresdir AALI Benny Tjoeng disela acara platinum award di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (6/4/2005).Benny menjelaskan hingga 5-7 tahun ke depan, perseroan masih memfokuskan pada penambahanan lahan kelapa sawit sehingga perseroan belum akan melakukan pembibitan sendiri atau pembuatan pabrik pengolahan CPO. Saat ini menurut Benny, perseroan sedang mengajukan ijin untuk membangun lahan baru seluas 100 ribu hektar di wilayah Kalimantan Timur. Untuk tahun 2005, jumlah lahan perseroan akan bertambah hingga 15 ribu hektar dengan dana yang dibutuhkan sekitar Rp 400 miliar termasuk didalamnya untuk membangun pabrik, ijin lokasi dan pembangunan infrastruktur. Lebih lanjut Benny menjelaskan, harga CPO pada kuartal I 2005 mengalami penurunan sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Saat ini harga CPO berkisar US$ 390 perton atau Rp 3600 per kg, sementara pada tahun 2004, harga CPO bisa mencapai Rp 3700 per kg. Turunnya harga CPO itu menurut Benny terkait dengan turunnya harga minyak kedelai. Saat ini produksi AALI sebesar 45 persen untuk kebutuhan ekspor, dimana ekspor tertinggi adalah ke India. Selama tahun 2005, AALI memprediksi produksi CPO-nya mencapai 850 ton CPO. Sementara pendapatan tahun 2005 diperkirakan relatif sama dibanding tahun 2004. Sedangkan laba bersih kemungkinan turun dibanding tahun lalu, akibat adanya penuruna harga CPO.Selain itu AALI juga berencana membagi dividen tunai sebesar Rp 150 per saham setelah pada tahun lalu membagi dividen Rp 100 per saham. Dengan demikian total dividen yang dibagi Rp 250 per saham atau 50 persen dari laba bersih tahun 2004 yang sebesar Rp 800 miliar.
(qom/)











































