Salah satu yang mengundurkan diri adalah David Santoso selaku Direktur Keuangan. Lantas, apa alasan mereka mengundurkan diri secara bersamaan?
"Ini pergantian antar waktu, sesuai akta 5 tahun sekali. Kan maksimal 2 kali, tapi kami sekali saja cukup, ini baru sekali (menjabat) setelah IPO," ujarnya kepada detikFinance, Jumat (2/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan ada 2 opsi, mengundurkan diri atau diberhentikan melalui RUPS. Kami lebih memilih mengundurkan diri," katanya.
Saat ini, kata David, sudah ada pengganti dari direksi dan komisaris yang mengundurkan diri. Namun, nama-namanya akan diumumkan usai RUPSLB yang akan digelar Januari mendatang.
"Orang-orangnya sudah ada, sudah fix, sudah beberapa bulan ini dipilih. Nanti diumumkan setelah RUPS, rencananya Januari," katanya.
Menurut David, saat ini Taksi Express sebagai perusahaan layanan transportasi terkemuka di Indonesia butuh wajah-wajah baru yang punya inovasi dan ambisi yang lebih fresh untuk bisa mengembangkan bisnis perseroan.
"Express sudah ada sejak 1989, tapi orang-orangnya sama, saya sudah 10 tahun di sini, jadi butuh regenerasi. Butuh regenerasi, beralih ke manajemen yang fresh karena persaingan investasi sengit baik taksi online maupun konvensional, itu dianggap sebagai tantangan," jelas dia.
Dengan orang-orang baru nanti, David berharap, perseroan akan lebih maju dan mampu bersaing dengan layanan serupa namun lebih mampu berinovasi seperti taksi online.
"Kita percaya dengan pergantian bisa maju lagi. Persaingan taksi seperti ini (online) perlu jeli, pemikiran harus lebih maju dan up to date. Kita mungkin orang-orang lama jadi konservatif, butuh yang agresif sehingga mampu berinovasi lebih baik," tandasnya.
Informasi saja, PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) mencatatkan kerugian sebesar Rp 81,805 miliar dalam 9 bulan pertama tahun 2016 atau periode yang berakhir pada 30 September 2016.
Padahal, di periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan masih membukukan keuntungan sebesar Rp 11,075 miliar. Rugi tersebut disebabkan karena perseroan menderita rugi selisih kurs. (drk/ang)











































