Alasannya karena hal tersebut tidak lagi mencerminkan fundamental perekonomian Indonesia.
"Jangan dibawa persepsi itu pada dolar, mestinya tidak seperti itu," ungkap Jokowi dalam sambutannya pada acara sarasehan 100 ekonom Indonesia di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (6/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi jangan sampai angka 10-11% ini menjadi mendominasi persepsi ekonomi karena dolar dan rupiah tadi," paparnya.
Bila dolar AS menjadi tolok ukur, menurut Jokowi, ekonomi Indonesia akan dianggap memburuk. Sementara sekarang pertumbuhan ekonomi berhasil menembus level 5%.
"Kalau ukur ekonomi Indonesia pakai dolar, nantinya ya kita akan kelihatan jelek. padahal negara lain juga alami hal sama. Ekonomi kita oke-oke saja. Tapi ini sekali lagi, persepsi," pungkasnya. (mkl/drk)











































