Di Depan Ekonom, Jokowi: Dolar AS Bukan Lagi Tolok Ukur Tepat

Di Depan Ekonom, Jokowi: Dolar AS Bukan Lagi Tolok Ukur Tepat

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 06 Des 2016 11:15 WIB
Di Depan Ekonom, Jokowi: Dolar AS Bukan Lagi Tolok Ukur Tepat
Foto: Maikel Jefriando
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak lagi bisa menjadi tolak ukur perekonomian Indonesia. Seharusnya perbandingan tersebut terjadi antara rupiah dengan mata uang negara mitra dagang RI.

"Menurut saya kurs rupiah dan dolar bukan lagi tolak ukur yang tepat. Kan harusnya kurs yang relevan akan kurs rupiah melawan mitra dagang terbesar kita," ujar Jokowi dalam sambutannya pada acara sarasehan 100 ekonom Indonesia di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (6/12/2016).

Misalnya dengan China, maka ukurannya adalah yuan, Jepang dengan yen dan Uni Eropa dengan euro. Sehingga persepsi yang muncul di masyarakat lebih berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"AS hanya 9-10% total perdagangan kita. Kalau China malah angka yang ada di saya 15,5%. Uni Eropa 11,4%, Jepang 10,7%. Ini penting untuk edukasi publik, untuk tidak hanya memantau kurs pada dolar AS semata. Tapi yang lebih komprehensif," paparnya.

Menurut Jokowi, persepsi itu nantinya bisa membahayakan Indonesia ke depan. Sebab bila ekonomi Indonesia dipersepsikan lebih buruk, maka arus investasi sulit terealisasi.

"Kalau kita masih bawa itu bisa berbahaya. Sementara kalau kita ukur ekonomi kita pakai euro, yuan, remimbi, korean won, pundsterling akan berbeda. Mungkin akan kelihatan jauh lebih bagus. Tapi kita selalu bertahun-tahun selalu melihat dolar dan rupiah," pungkasnya. (mkl/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads