Bisakah dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp 14.000?
"Saya kira nggak akan sampai segitu. Memang ada ketidakpastian yang menimbulkan gejolak, tapi rasanya tidak akan sampai batas itu," kata Juda Agung, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (15/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juda menjelaskan, kondisi perekonomian sekarang mampu tumbuh di atas 5%. Inflasi bergerak terkendali yang diperkirakan mencapai 3-3,2% pada akhir tahun. Sementara itu untuk defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) dimungkinkan terjada pada kisaran 2% terhadap PDB.
"Dibandingkan sebelumnya, kondisi sekarang jauh lebih baik," tegas Juda.
Selama 2016, nilai tukar rupiah bergerak stabil dan cenderung menguat .Penguatan rupiah berlangsung hingga Oktober dan tertahan di bulan November 2016 pasca Pemilu AS. Secara point to point, rupiah menguat 1,70% (ytd) pada level Rp13.550 per dolar AS pada akhir November 2016.
Penguatan rupiah didukung oleh sentimen positif terhadap perekonomian domestik, seiring dengan kondisi stabilitas makroekonomi yang terjaga dan implementasi UU Pengampunan Pajak yang berjalan dengan baik.
Namun, pada bulan November 2016, penguatan rupiah tertahan akibat meningkatnya ketidakpastian perekonomian global pasca Pemilu AS dan ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate. Sejak awal Desember 2016, Rupiah kembalimenguat sejalan dengan aliran masuk dana asing.
"Bank Indonesia akan terus mewaspadai risiko capital reversal terkait ketidakpastian kebijakan AS dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar," tambah Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara pada kesempatan yang sama. (mkl/ang)










































