Banyaknya peristiwa dan insiden yang terjadi di penghujung tahun, mulai dari terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), naiknya bunga The Federal Reserve (The Fed), penembakan Dubes Rusia untuk Turki, hingga serangan di Aleppo, membuat analis memperkirakan ekonomi global direvisi.
Selain itu masih ada referendum Italia yang juga diprediksi mengubah kondisi ekonomi dunia. Maka dari itu, perusahaan finansial Nomura Holding memperkirakan ekonomi Singapura akan mengalami masa-masa berat tahun depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekonomi dalam negerinya juga akan mendapat banyak tantangan. Tingginya utang individu dan korporasi akan terkena imbas dari naiknya suku bunga AS, ini akan memperketat likuiditas di Singapura," tambahnya.
Jika MAS meramal ekonomi Singapura bisa tumbuh 1-3% tahun depan, Nomura justru memangkas prediksinya dari 1% menjadi hanya 0,7%.
Dengan prediksi pertumbuhan ekonomi yang rendah ini, nilai tukar dolar Singapura merespons dengan melemah. Mata uang negeri singa itu sudah jatuh ke titik terendah dalam 7 tahun terakhir.
Terhadap rupiah, dolar Singapura sudah melemah 2% hanya di bulan Desember ini saja. Pada 1 Desember nilainya masih Rp 9.498, sementara kemarin sudah turun ke Rp 9.294.
Pada perdagangan hari ini menjelang siang, dolar Singapura berada di posisi Rp 9.287, lebih rendah dari posisi kemarin di Rp 9.318.
Namun Nomura memprediksi dolar Singapura akan diintervensi oleh MAS supaya tidak jatuh terlalu dalam. (ang/hns)











































