OJK Prediksi Kondisi Pasar Modal RI di 2017 Lebih Baik

OJK Prediksi Kondisi Pasar Modal RI di 2017 Lebih Baik

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Jumat, 30 Des 2016 20:12 WIB
OJK Prediksi Kondisi Pasar Modal RI di 2017 Lebih Baik
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi ditutup Jumat (30/12/2016), dengan capaian IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) 5.296. Perdagangan akan kembali dibuka pada 3 Januari 2017 nanti.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida, mengungkapkan perdagangan di pasar modal di 2017 masih memiliki potensi yang cukup bagus.

"Potensi kita lihat kan bagus sekali, bahwa terlepas dari kondisi global yang belum terlalu meningkat seperti yang kita harapkan. Tetapi di domestik ini kita cukup banyak yang bisa untuk mendorong memajukan market di 2017," ujar Nurhaida di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (30/12/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu penyebab yang dapat membuat kondisi pasar modal Indonesia lebih baik, adalah karena adanya dana repatriasi dari program tax amnesty yang tengah digenjot pemerintah.

"Tax amnesty itu kan ada repatriasi sebesar Rp 143 triliun yang telah komit oleh para wajib pajak, itu tentunya di akhir tahun ini itu sudah harus masuk. Tentu memang masuknya ke bank persepsi, tapi setelah itu pasti akan mencari instrumen investasi sesuai kebutuhan investasi atau wawasan pemilik dana," ungkap Nurhaida.

"Nah terbuka sekali kemungkinan dalam hal investasi ini di instrumen pasar modal, bisa SBN (Surat Berharga Negara), atau bisa kita banyak lakukan ada perubahan itu di DIRE (Dana Investasi Real Estate), RDPT (Reksa Dana Penyertaan Terbatas), itu RDPT di OJK cukup meningkat. Baru kemarin saja ada sekitar 4 atau 5 RDPT izin baru. Jadi saya lihat di 2017 ini akan berlanjut. Jadi itu adalah potensinya," tambah dia.

Selain, Nurhaida optimistis, rencana dari bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed yang akan menaikkan suku bunganya hingga tiga kali lipat, tidak akan mempengaruhi kepercayaan investor untuk menarik dananya di pasar modal Indonesia.

"Investor itu kan akan mencari return yang optimal. Dalam artian gini, antara risk and return itu kan hal yang terkait. Jadi bisa saja mereka mencoba di tempat yang katakanlah FFR (Fed Fund Rate) meningkat, kemudian investasi meningkat. Tetapi kemudian meningkatnya berapa banyak jika dibandingkan di Indonesia yang masih cukup tinggi returnnya," kata dia.

"Sehingga itu nanti pilihan, apakah tetap keluar dengan peningkatan yang 3 kali lipat, tapi kan kalau di Indonesia mungkin returnnya lebih bagus. Kalau kita bisa meminimalisir risiko, apakah risiko investasi atau risiko politik misalnya, tentu itu akan membuat investor akan memilih ke Indonesia karena return kita bagus," tuturnya.

Kendati demikian, Nurhaida mengungkapkan, masih ada tantangan yang akan dihadapi tahun 2017 nanti. Salah satunya kepercayaan investor sendiri untuk menaruh dananya di pasar modal. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads