IPO Jasamarga Ditunda
Kamis, 14 Apr 2005 17:16 WIB
Jakarta - PT Jasamarga (persero) menunda penawaran saham perdana (IPO/Initial Public Offering) hingga awal tahun 2006. Sebelumnya Jasamarga merencanakan dapat melakukan IPO 25 persen pada tahun ini."IPO 25 persen diundur menjadi awal tahun 2006," kata Dirut Jasamarga Syarifuddin Alambai disela acara seminar Project Management di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (14/4/2005).Menurutnya penundaan tersebut salah satunya karena belum adanya izin dari pemegang saham. Namun dia berharap IPO tersebut tetap dilaksanakan. Pasalnya perseroan sedang membutuhkan dana yang cukup besar dalam rangka investasi."Ini (IPO) harus dijalankan oleh pemegang saham. Kalau tidak cashflow kita terganggu," katanya.Investasi 2005Syarifuddin juga menjelaskan selama tahun 2005, perseroan membutuhkan dana investasi sebesar Rp 2,2 triliun. Investasi tersebut meliputi pembangunan jalan tol Bogor Ringroad, Gempol-Pasuruan (Jatim), Semarang -Solo (Jateng). Dimana untuk ketiga proyek itu pada tahun 2005 saja membutuhkan dana Rp 560 miliar. Sedangkan keeseluruhan dananya mencapai Rp 6 triliun yang pembangunannya dimulai 2005 dan selesai 2008.Selain itu investasi juga dibutuhkan karena perseroan melakukan penyertaan ekuitas di beberapa proyek ruas jalan tol seperti jalur Cikampek-Palimanan yang memiliki 15 persen saham dan jalur Waru-Djuanda yang memiliki keikutsertaan saham 20 persen.Dijelaskan, pendanaan untuk investasi tahun ini selain dari internal perusahaan juga akan diterbitkan obligasi sekitar Rp 1-1,5 triliun. Obligasi itu direncanakan diterbitkan sebelum November 2005. Obligasi tersebut diperkirakan berjangka waktu 7-8 tahun. Selain itu perseroan juga melakukan pinjaman kepada bank.Syarifuddin juga menjelaskan bahwa perseroan akan mengikuti tender yang dilakukan pemerintah untuk 15 ruas jalan tol pada Mei ini. Rencananya perseroan akan membentuk konsorsium dengan perusahaan dari Malaysia dan Cina.Untuk tahun 2005 perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 6 persen dibandingkan tahun 2004 yang sebesar Rp 1,9 triliun.Pada kesempatan itu Syarifuddin mengaku pihaknya berencana akan menaikan tarif tol kurang lebih 10 persen namun pelaksanaannya belum tahu kapan akan dilaksanakan. Menurutnya kenaikan itu diperlukan karena menyesuaikan tingginya inflasi saat ini.
(san/)











































