Saat konfrensi pers Jumat 10 Februari 2017 pekan lalu, BEI sudah menyiapkan 2 opsi. Pertama BEI akan menerangi perdagangan saat pre-closing. Sehingga seluruh pelaku pasar bisa melihat saham mana yang sedang ditransaksikan pada periode 15.50- 16.00 JATS.
Jika itu tak cukup, maka BEI akan mengubah penentuan waktu penutupan secara acak (random closing) yang ditentukan selama periode pre-closing. Penentuan random closing ini lakukan secara acak oleh sistem, BEI pun tidak akan tahu kapan waktu penutupan perdagangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada opsi berikutnya kita sekalian saja hilangkan pre-closing. Kenapa musti ada pre-closing, sampai sesi dua selesai ya itu penentuan harga terjadi selama trading," tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Senin (13/2/2017).
Sistem pre-closing sebenarnya baru diluncurkan pada pertengahan 2012 yang lalu. Sistem ini guna menentukan harga saham yang tercatat berdasarkan rata-rata beli dan jual pada 10 menit terakhir perdagangan harian.
Menurut Alpino sistem tersebut justru belakangan ini merugikan investor ritel. Sebab sering kali harga saham berubah drastis pada masa pre-closing dan investor tidak bisa melihat perubahaannya.
"Keuntungannya apa pre-closing di investor? Bagi investor itu tidak menguntungkan, malah enggak ada (untungnya). Posisinya bisa terus turun tajam. Masalahnya kita lihat selama pre-closing terjadi pembentukan harga maupun penurunan IHSG itu tidak mendasar fundamental sekali. Itu yang harus dicamkan," imbuhnya.
Kendati begitu Alpino menegaskan bahwa BEI belum memutuskan. Ketiga opsi tersebut bisa saja diambil oleh BEI selaku regulator pasar modal. (ang/ang)











































