Follow detikFinance
Senin 27 Feb 2017, 16:52 WIB

Ada Saham 'Zombie', LQ45 Tak Cocok untuk Investor Pemula

Danang Sugianto - detikFinance
Ada Saham Zombie, LQ45 Tak Cocok untuk Investor Pemula Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Banyak pihak yang menyarankan investor pemula sebaiknya memilih saham-saham LQ45 di pasar modal. Sebab saham-saham di LQ45 dianggap aman dalam berinvestasi.

Namun menurut Pengamat Pasar Modal Satrio Utomo, saham-saham di LQ45 sebenarnya tidak cocok direkomendasikan untuk investor pemula. Sebab karakter saham yang masuk dalam jajaran LQ45 berdasarkan aktifnya pergerakan saham tersebut baik menguat maupun melemah.

"Yang namanya saham LQ45 itu baik turun apa naik tidak masalah, kan tetap likuid. Tapi bukan berdasarkan fundamental, oleh karena itu saham seperti BUMI (PT Bumi Resources Tbk) bisa masuk," tuturnya saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (27/2/2017).

Saham BUMI sendiri masuk jajaran 45 saham paling likuid pada 25 Januari lalu. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar saham LQ45 yang baru dengan saham BUMI dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) sebagai wajah baru.

BUMI sendiri sebelumnya telah lama tidur di level Rp 50 per saham (gocap). Awal mula kebangkitan saham yang terafiliasi dengan Grup Bakrie itu ketika isu restruktrisasi utang BUMI bergulir. Meski baru sekedar wacana, saham BUMI mulai menanggalkan predikat gocap pada 10 Juni 2016 yang langsung naik ke level Rp 67 per saham. Setelah itu pada 30 Juni 2016 saham BUMI stagnan di level Rp 68 per saham.

Akhirnya pada RUPSLB BUMI di 7 Februari 2017 sebanyak 99,96% pemegang saham sepakat atas rencana restrukturisasi utang melalui menerbitkan saham baru dengan skema right issue. Harga pelaksanaan rights issue dipatok pada level Rp 926, sehingga maksimal dana yang akan diraih lewat HMETD sebesar Rp 35,1 triliun.

Lewat righs issue tersebut, maka jumlah utang yang akan di konversi melalui penerbitan saham baru atau rights issue sebesar US$ 2,01 miliar. Sementara untuk konversi melalui OWK senilai US$ 639 juta.

Alhasil saham BUMI terus bergerak menguat ditengah keseriusan perseroan yang ingin melakukan restrukturisasi utang melalui rights issue hingga posisi tertinggi di level Rp 505 pada 27 Januari 2017. Namun setelah itu saham BUMI kembali menuju jurang dengan penurunan terdalam pada 21 Februari 2017 di level Rp 294 per saham.

Keesokan harinya saham BUMI kembali tancap gas dengan menguat 25,17% ke level Rp 368. Jelang penutupan perdagangan hari ini, saham BUMI terpantau melemah 2,41% ke level Rp 324.

Berdasarkan catatan tersebut, Satrio mengimbau agar investor pemula untuk berhati-hati memilih saham di jajaran LQ45. Dia menyarankan agar melihat fundamental dari emiten tersebut, seperti price earning ratio (PER) dari saham yang akan dibeli.

"Saya lebih cenderung untuk melihat fundamentalnya, cari saham yang harganya wajar. Kalau bisa murah, wajar dalam PER rata-rata sekitar 16,5-18. Kalau investasi kan jangka panjang lihat valuasi atau murah. Kalau PER-nya di atas 30 itu bukan murah. Selain fundamentalnya dan harus lihat faktor seasonal," pungkasnya. (ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed