Saham Dibekukan 2 Tahun, Inovisi Masih Dilirik Investor

Saham Dibekukan 2 Tahun, Inovisi Masih Dilirik Investor

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 07 Mar 2017 19:48 WIB
Saham Dibekukan 2 Tahun, Inovisi Masih Dilirik Investor
Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Sudah lebih dari 2 tahun saham PT Inovisi Infracom Tbk (INVS) dibekukan atau disuspensi. Sepanjang waktu itu pula, publik tidak bisa mengetahui nasib dari perusahaan tersebut.

Kendati demikian, INVS mulai menunjukkan itikad baik dengan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Dalam rapat tersebut pemegang saham sepakat adanya perombakan total jajaran direksi dan komisaris, serta dilakukannya audit atas laporan keuangan 2014, 2015 dan termasuk laporan keuangan kuartal I 2016.

Manajemen baru Inovisi mencatat ada beberapa investor yang tertarik terhadap perusahaan. Investor tersebut berasal dari berbagai sektor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya mungkin ada 3-5 (investor) lah. Tidak hanya oil and gas, infrastruktur juga ada yang menawarkan," kata Direktur Independen INVS Pantur Silaban di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (7/3/2017).

Sayangnya Pantur mengaku belum bisa menyampaikan siapa investor tersebut. Namun dirinya mengatakan investor tersebut tak hanya datang dari dalam negeri tapi juga luar negeri.

"Banyak (investor, cuma enggak bisa langsung. Karena harus kaitkan posisi kita. Sementara belum bisa menyampaikan apa-apa karena masih baru. (Investor) dari lokal dan luar, ini kan perusahaan multinasional. Kita enggak bisa ngomong. 3 bulan lagi lah," imbuhnya.

Sementara Presiden Direktur INVS Effendy Situmorang mengatakan, fokus utama perseroan ke depan akan menggarap sektor minyak dan gas (migas). INVS sendiri sebelumnya bergerak di beberapa bidang, seperti IT, batu bara, migas dan sawit.

Menurutnya, sektor energi memiliki potensi yang luar biasa pada 2021 mendatang. Sebab di saat menurunnya harga minyak, maka banyak perusahaan migas yang berhenti berinvestasi, sehingga dia perkirakan 2021 akan terjadi krisis migas.

"Sekitar 2021 kita masuk krisis energi siapa yang bisa main dengan baik dan melakukan antisipasi, maka 2021 akan menjadi leader di energi. Nah ini kita akan masuk ke upstream, memang ada risk. Tapi pada akhirnya itu supply and demand, tidak peduli ada intervensi politik atau apapun maka supply and demand yang dibutuhkan. Tapi kita benahi dulu laporan keuangan, setelah itu baru kita jalan," tuturnya.

Saham INVS sendiri disuspensi oleh PT Bursa Efek Indonesia di seluruh pasar sejak 12 Februari 2015. Penyebabnya, perseroan belum menyampaikan laporan keuangan interim dan belum membayar denda. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads