Terseret Wall Street dan Nikkei, IHSG Anjlok 36,329 Poin
Senin, 18 Apr 2005 16:23 WIB
Jakarta - IHSG makin merosot. Pada perdagangan Senin (18/4/2005), IHSG ditutup anjlok tajam 36,329 poin (3,31 persen) ke level 1.060,189. Ambruknya bursa saham kali ini merupakan imbas dari anjloknya bursa Wall Street dan Nikkei. Indeks LQ 45 turun 8,202 poin pada level 228,940, JII turun 7,117 poin pada level 167,688, MBX turun 8,447 poin pada level 283,594 dan DBX turun 14,015 poin pada level 240,559. Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 22.093 kali pada volume 3.114.873 lot saham senilai Rp 1,554 triliun. Hanya 7 saham yang mengalami kenaikan, 171 saham turun dan 183 saham stagnan. Saham-saham yang turun di top loser diantaranya Astra Internasional turun Rp 400 menjadi Rp 10.600, BRI turun Rp 150 menjadi Rp 2675, PGN turun Rp 150 menjadi Rp 2.375, Telkom turun Rp 125 menjadi Rp 4.500, United tractor turun Rp 125 menjadi Rp 2.800. Sedangkan saham yang masih mencatat kenaikan harga di top gainer diantaranya Aqua Golden Missisipi naik Rp 900 menjadi Rp 51.000, Merck naik Rp 200 menjadi Rp 29.000, Modern Photo Film naik Rp 10 menjadi Rp 640, Bank Victoria naik Rp 5 menjadi Rp 90, Japfa naik Rp 5 menjadi Rp 265. Menurut Baradita Katoppo, head of research Kim Eng Securities, anjloknya indeks pada hari ini terutama karena melemahnya Wall Street pada pekan lalu yang diikuti melemahnya indeks Nikkei. Tercatat Nikkei pada perdagangan Sesi pagi hari ini melemah hingga 369,48 poin pada level 11.001,21, yang dipicu memanasnya hubungan Jepang dan Cina.Baradita menambahkan, penurunan indeks akibat memburuknya pasar global memberi tekanan yang cukup besar baik kepada saham unggulan maupun lapis kedua. Selain itu menurut Baradita, penurunan indeks secara global karena adanya analisa dari para ekonom bahwa perekonomian dunia diperkirakan akan melambat. Hal ini dikhawatirkan akan berdampak pada perekonomian Indonesia terutama dari sisi ekspor yang selanjutnya berimbas pada pasar saham. Menurut Baradita, meski ada beberapa sentimen positif seperti kenaikan realisasi PMA sebesar 140 persen pada kuartal I 2005 dan penjualan obligasi internasional pemerintah, namun sentimen positif tersebut tidak cukup kuat menahan gejolak dari melemahnya bursa global yang cukup dalam.
(qom/)











































