Akuisisi Sampoerna oleh Philip Morris Dinilai Bukan Ancaman
Selasa, 19 Apr 2005 13:00 WIB
Jakarta - Rival PT HM Sampoerna tbk, yakni PT BAT Indonesia (BATI) menganggap akuisisi HM Sampoerna oleh PT Philip Morris Indonesia (PMI) bukan sebagai sebuah ancaman. Akuisisi itu juga diperkirakan tidak akan mengubah peta bisnis rokok di Indonesia."Akuisisi Philip Morris terhadap Sampoerna tidak akan mengubah peta bisnis. Karena kita sendiri belum tahu kemana arah Philip Morris setelah akuisisi itu dilakukan," kata Dirut BATI Ian Morton dalam paparan publik di Hotel Gran Mahakam, Jakarta, Selasa (19/4/2005).BATI merupakan produsen rokok putih diantaranya merek Dunhill, Lucky Strike, Ardath, Commfil dan Kansas. Saat ini BATI memiliki pangsa pasar rokok putih sebesar 30 persen. Sedangkan terhadap pangsa pasar rokok keseluruhan hanya 2,5 persen. Ian menjelaskan, saat ini pihaknya lebih menekankan produk rokok putih, sementara HM Sampoerna fokus pada rokok kretek. Dan hingga sejauh ini menurut Ian, belum diketahui strategi apa yang akan dilakukan PMI. "Sehingga dampak dari akuisisi tersebut masih belum terlihat kecuali PMI sudah mengumumkan lebih tegas mengenai strateginya termasuk bagaimana mengelola karyawan Sampoerna yang begitu besar," ujarnya.Penjualan TembakauBerkaitan dengan penjualan daun tembakau, yang juga merupakan salah satu bisnis BATI, Ian mengakui saat ini konsumen sangat menyukai produk daun tembakau yang juga dijual oleh BATI. Namun demikian Ian menegaskan, perseroan akan tetap fokus pada bisnis inti yakni rokok terutama rokok putih. Ian memperkirakan, permintaan daun tembakau pada tahun ini akan naik 5-10 persen dibanding tahun 2004. Penjualan tembakau perseroan diperkirakan juga akan meningkat seiring dengan kenaikan itu. Pada tahun 2004, dari penjualan bersih BATI sebesar Rp 573 miliar sebesar Rp 106 miliar berasal dari penjualan tembakau. Penjualan bersih BATI turun 3 persen dibandingkan tahun 2003 yang mencapai Rp 591 miliar. BATI juga mengalami rugi bersih Rp 18 miliar pada tahun 2004, dibandingkan tahun 2003 yang memperoleh laba bersih Rp 49 miliar. "Hal ini diakibatkan karena menurunkan volume penjualan perusahaan sebesar 9 persen dibandingkan tahun lalu," kata Ian.Selain itu, rugi bersih itu juga dipicu adanya biaya restrukturisasi one off sebesar Rp 43 miliar sebagai akibat penutupan pabrik di Malang. Saat ini BATI mengintegrasikan pabrik rokoknya hanya di Cirebon. Mengenai merger dengan PT Rothmans of Pall Mall Indonesia (RPMI) menurut Ian, secara operasional sudah dilakukan sejak akhir 2004. Saat ini perseroan tinggal menunggu persetujuan secara legal dari Depkeh dan HAM. Saat ini komposisi kepemilikan saham BATI adalah British Amereican Tobacco Investment (71 persen), HSBC-Fun Services Client (8 persen), BONY II (7 persen) dan publik lainnya (14 persen).
(qom/)











































