Kian Terpuruk, General Motor Alami Rugi Hingga US$ 1,1 M

Kian Terpuruk, General Motor Alami Rugi Hingga US$ 1,1 M

- detikFinance
Rabu, 20 Apr 2005 10:13 WIB
Jakarta - Awan hitam tengah menyelimuti perusahaan otomotif terbesar di dunia, General Motor (GM). Perusahaan ini terus mencatat rugi, bahkan pada kuartal I 2005, General Motor menderita kerugian hingga US$ 1,1 miliar, yang merupakan kerugian terbesar sejak tahun 1992. Padahal pada periode yang saham tahun lalu, GM masih mampu mencatat untung hingga US$ 1,2 miliar.Kerugian yang diderita General Motor ini, terutama diakibatkan oleh unit perusahaan GM di Amerika utara (GMNA), yang mencatat rugi hingga US$ 1,3 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, unit ini mampu menghasilkan laba hingga US$ 401 juta. Kerugian terutama datang dari item-item khusus GM sebesar US$ 1,95 dolar dan juga biaya restrukturisasi hingga US$ 1,48 per saham. Untuk item khusus termasuk biaya untuk restrukturisasi di Eropa, pemangkasan karyawan di AS, penutupan pabrik dan juga penyesuaian pajak. Tanpa biaya-biaya ini, kerugian GM bisa ditekan hingga menjadi US$ 839 juta. GM juga mengumumkan, pendapatan year on yearnya turun sebesar 4,3 persen menjadi US$ 45,8 miliar. "Kemerosotan ini merefleksikan turunnya volume penjualan dan produksi, persaingan harga yang ketat dan penjualan yang tidak menguntungkan, beban pemeliharaan kesehatan yang besar," ujar CEO dan pimpinan GM Rick Wagoner dalam penjelasannya seperti dilansir AFP, Rabu (20/4/2005)."Hampir seluruh unit bisnis kami sebenarnya melebihi perkiraan, namun hasil dari GM di Amerika Utara benar-benar mengecewakan," kata Wagoner.Wagoner menambahkan, GM tengah menyusun rencana untuk mendongkrak performans GMNA, yang akan dimulai dengan pengenalan produk yang lebih agresif pada tahun ini, prakarsa fokus penjualan pada nilai dan pengurangan lebih lanjut pada struktur biaya. Wagoner menambahkan, kebutuhan terbesar adalah menyangkut biaya pemeliharaan kesehatan.GM pada bulan lalu memangkas perkiraannya labanya hingga 80 persen menjadi rugi sebesar US$ 1,5 per saham yang dipicu lemahnya penjualan dai Amerika utara dan ketatnya persaingan dari luar negeri. Kondisi yang buruk ini membuat lembaga pemeringkat internasional baik Fitch maupun Standard and Poor's dan juga Moody's mengancam menurunkan peringkat GM menjadi "junk" alias rongsokan jika GM tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sebelumnya Financial Times juga menulis, GM kini tengah dililit utang hingga US$ 300 miliar dollar AS. Manajemen GM juga punya kewajiban US$ 61,5 miliar untuk program kesehatan pekerjanya dan juga pensiunan karyawannya. Ini berarti uang hasil keuntungan akan beralih dari pemegang saham kepada pemilik obligasi dan pensiunan.Pangsa pasar GM juga terus turun hingga di bawah 26 persen pada kuartal pertama ini karena ekspansi yang agresif dari rivalnya sesama perusahaan otomotif asal jepang. Namun sejumlah analis mengaku tidak terkejut dengan pengumuman GM ini karena sudah diperkirakan sebelumnya. "Kerugian ini tidaklah mengejutkan. Segala hal, masalah volume dan harga telah membunuh mereka pada kuartal pertama. Sementara biaya pemeliharan kesehatan benar-benar di luar kontrol," kata David Healy, analis dari Burnham Securities. Saham General Motor juga kian terpuruk hingga mencapai level terendah dalam 12 tahun terakhir pada beberapa pekan terakhir. Dan pada perdagangan kemarin turun kembali 10 sen menjadi US$ 26,09 per saham. Ambruknya kondisi GM yang berdampak pada jatuhnya saham ini memberi dampak ke seluruh dunia. Pemerintah Indonesia sendiri pada bulan lalu terpaksa menunda penjualan obligasi internasionalnya sebesar US$ 1 miliar karena kondisi pasar saham dunia yang terpuruk akibat anjloknya saham GM. Penurunan saham GM itu setidaknya membuat investor dunia lebih barhati-hati dalam belanja portfolio, sehingga membuat pemerintah Indonesia mengalah dan menunda penerbitan obligasi internasionalnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads