Catatan tersebut cukup gemilang, sebab di 2015 Medco Energi Internasional mengalami kerugian sebesar US$ 188 juta atau sekitar Rp 2,44 triliun.
Sepanjang 2016, perusahaan migas tersebut berhasil meningkatkan produksinya dari 2015 sebesar 56 MBOEPD menjadi 66 MBOEPD. Perseroan juga berhasil menurunkan cash costs operasional migas per unit dari US$ 12,3 per BOE menjadi US$ 8,8 per BOE.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara EBITDA atau laba sebelum dikurangi bunga utang dan pajak pada 2016 juga meningkat dari US$ 220 juta menjadi US$ 274 juta. Angka itu merupakan konsolidasi dari anak usahanya PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).
Hilmi yakin kinerja positif perseroan akan berlanjut pada tahun ini. Pihaknya juga peningkatan kualitas margin operasi juga akan berlanjut tahun ini.
"Saya percaya peningkatan margin operasi kami akan berlanjut sehingga mampu memberikan value dan return untuk investor, pemberi pinjaman dan pemangku kepentingan lainnya," pungkasnya. (hns/hns)










































