Astra Siapkan Belanja Modal Rp 15 Triliun Tahun Ini

Astra Siapkan Belanja Modal Rp 15 Triliun Tahun Ini

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Kamis, 20 Apr 2017 16:12 WIB
Astra Siapkan Belanja Modal Rp 15 Triliun Tahun Ini
Foto: Dok. Astratel
Jakarta - PT Astra International Tbk (ASII) menyiapkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 15 triliun di tahun ini. Besaran tersebut akan digunakan untuk membiayai belanja seluruh lini bisnisnya.

Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto mengatakan, dari Rp 15 triliun belanja modal yang disiapkan tahun ini, Rp 2,5 triliun di antaranya akan digunakan untuk membuka outlet-outlet otomotif baru.

"Dari Rp 15 triliun direcanakan untuk 2017, otomotif kemungkinan besar Rp 2,5 triliun untuk ekspansi outlet-outlet," tutur Prijono di Hotel Mulia Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (20/4/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan sisanya, lanjut Prijono, akan disebar di seluruh lini bisnisnya yang meliputi, properti, perkebunan, hingga alat berat.

"Ini hanya untuk ekspansi daripada outlet-outlet yang ada dan dealer-dealer. Sisanya macam-macam," kata Prijono.

Mengenai pengembangan motor listrik, Direktur Astra International Johannes Loman mengatakan bahwa pihaknya kini tengah mencari solusi agar dalam operasionalnya, motor listrik bisa bertahan lama dengan waktu pengisian daya yang tidak terlalu lama.

"Saat ini Honda Motor kembangkan motor listrik, tapi di sisi lain bersama asosiasi diskusi dengan pemerintah, Kemenhub dan untuk regulasi paralel juga kita lakukan," tutup Johannes.

Bisnis Alat Berat dan Bank Mulai Bangkit

Selain ditopang dari penjualan mobil dan motor, kesuksesan Astra di kuartal I-2017 juga didukung oleh membaiknya harga batu bara yang berimbas kepada peningkatan penjualan alat berat hingga 70%.

"Penjualan alat berat mendadak naik terutama untuk pertambangan jadi bergairan lagi naik 70% karena harga batu bara naik," tutur Prijono.

Untuk bisnis kendaraan roda dua dan roda empat, Prijono mengaku mengalami sedikit tekanan di awal tahun 2017, namun secara marketshare tercatat mengalami kenaikan.

Untuk bisnis jasa keuangan, yaitu PT Bank Permata Tbk (BNLI) mencatat laba Rp 453 miliar di tiga bulan pertama tahun ini. Kinerja ini jauh lebih baik dibandingkan dengan kerugian sebesar Rp 376 miliar pada periode yang sama di tahun 2016.

Pulihnya kinerja Bank Permata tidak terlepas dari langkah strategis perseroan untuk menekan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL). Rasio NPL gross tercatat sebesar 6,4% per 31 Maret 2017, turun dari 8,8% pada Desember 2016. Sedangkan rasio NPL net tetap di kisaran 2,2%.

"Kita lihat tren positif di akhir tahun, gross NPL Bank Permata 8,8% sekarang 6,4%," ujar Prijono. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads