Jumlah saham syariah tercatat 348 dengan pertumbuhan 0,29% dari sebelumnya 347 saham.
"Saham syariah biasanya berada di sektor perdagangan, jasa dan investasi yakni sebanyak 89 saham atau sekitar 25,57%," ujar Deputi Komisioner Industri Keuangan Non Bank (IKNB) I Edi Setiadi, seperti dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu (29/4/2017)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan untuk jumlah reksadana syariah tercatat 145 atau meningkat 6,62% dibandingkan periode akhir 2016 136. Kemudian nilai aktiva bersih (NAB) tercatat Rp 18,16 triliun atau meningkat 21,8% dibandingkan NAB tahun lalu Rp 14,91 triliun.
Jumlah Sukuk korporasi outstanding per 21 April 2017 sebanyak 55 seri, meningkat 3,77% dibandingkan dengan akhir tahun 2016 53 seri sukuk. Dari sisi nilainya, sebesar Rp12,13 triliun, meningkat sebesar 2,10% dibandingkan akhir tahun 2016 sebesar Rp11,88 triliun.
Jumlah Sukuk Negara outstanding sebanyak 53 seri, jumlah tersebut sama dengan posisi akhir tahun 2016. Dari sisi nilainya, Sukuk Negara sebesar Rp485,8 triliun, meningkat sebesar 18,09% dari akhir tahun 2016 sebesar Rp411,37 triliun.
Analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo, mengungkapkan naiknya kapitalisasi pasar saham syariah terjadi karena mulai meningkatnya kepercayaan investor terhadap emiten yang mengeluarkan saham syariah. "Sekarang investor memperhatikan baiknya tata kelola perusahaan, jadi pasar kasih sentimen positif ke emiten," ujar Lucky saat dihubungi, Sabtu (29/4/2017)
Selain faktor tata kelola yang baik, dorongan regulator seperti OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menjadi salah satu faktor yang membuat mulai meningkatnya kinerja saham syariah di pasar modal.
Untuk terus meningkatkan kapitalisasi pasar syariah, dia mengharapkan BEI bisa memberikan prioritas kepada calon emiten yang memiliki produk saham syariah. Hal ini diharapkan bisa meningkatkan jumlah emiten syariah di lantai bursa. (hns/hns)











































