Follow detikFinance
Senin 08 May 2017, 14:02 WIB

Menakar Untung-Rugi Investasi Obligasi

Danang Sugianto - detikFinance
Menakar Untung-Rugi Investasi Obligasi Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Penerbitan surat utang (obligasi) tahun ini di pasar modal semakin ramai. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga saat ini sudah kantongi penerbitan obligasi sebesar Rp 94 triliun, baik yang sudah diterbitkan maupun baru berupa komitmen.

Dengan suplai obligasi yang melimpah, instrumen investasi ini patut dipertimbangkan untuk menambah portofolio investasi. Lalu sebenarnya apa saja untung dan rugi dari berinvestasi di obligasi?

Menurut Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, meski obligasi merupakan investasi bersifat jangka panjang, tetap saja mengandung risiko. Salah satu risiko yang mungkin terjadi adalah gagal bayar.

"Misalnya perusahaan (penerbit obligasi) itu sangat bergantung impor barang material, dan dia sngat bergantung pada fluktuasi dolar. Kalau dolarnya menguat pasti membebani kinerjanya, performance buruk. Jadi rating-nya turun, worst case-nya bisa gagal bayar. Itu contoh suatu faktor risiko," terangnya saat dihubungi detikFinance, Senin (8/5/2017).

Sementara dari sisi keuntungannya, obligasi memberikan keuntungan pasti (fixed income) dari kupon dalam jangka waktu yang ditetapkan. Selain itu kupon imbal hasil (return) dari obligasi biasanya lebih besar dibanding instrumen investasi perbankan yang juga minim risiko seperti deposito.

"Sementara jika dibandingkan dengan surat utang negara (SUN), obligasi tingkat bunganya lebih atraktif. Karena SUN dijamin negara, jadi risiko gagal bayarnya kecil, makanya tingkat bunganya lebih rendah," imbuhnya.

Selain itu, obligasi juga bisa diperjualbelikan. Sehingga pemegang obligasi selain mendapatkan keuntungan dari kupon juga bisa meraup untung dari kenaikan harga obligasi saat dijual.

Bunga Kredit Bank Tinggi Picu Penerbitan Obligasi

Josua mengataka ada beberapa faktor yang membuat pasar obligasi korporasi semakin ramai. Pertama, suku bunga kredit di perbankan masih terbilang tinggi, sehingga para perusahaan mencari alternatif pemibayaan lainnya salah satunya obligasi.

"Kita lihat suku bunga kredit perbakan memang ada penurunan di awal tahun. Tapi relatif masih cenderung tinggi karena NPL perbankan secara industri masih tinggi," tuturnya.

Masih tingginya suku bunga perbankan tidak selaras dengan aktivitas perusahaan dan industri yang semakin bergeliat. Sehingga pendanaan dari perbankan pun tak lagi menjadi primadona para perusahaan.

Selain itu, bagi perusahaan-perusahaan infrastruktur membutuhkan pembiayaan yang memiliki jangka waktu panjang. Sementara pinjaman dari perbankan bersifat jangka pendek.

"Bank menghadapi risiko miss match pendanaannya. Dia karakterisitik pinjamannya jangka pendek, sementara kebutuhan pembiayaan jangka panjang, jadi likuiditasnya terganggu. Oleh karena itu perbankan relatif berhati-hati untuk pembiayaan jangka panjang," tukasnya.

Ditambah lagi, saat ini tingkat imbal hasil (yield) dari surat utang negara (SUN) cenderung turun. Sementara yield SUN menjadi tolak ukur untuk penentuan kupon obligasi korporasi. Sehingga jika semakin rendah, maka beban yang harus ditanggung perusahaan yang mengeluarkan obligasi semakin rendah.

"Yield SUN sekarang masih sekitar 7,0%, tapi trennya dari akhir tahun di level 7,8-8%. Sekarang turun hampir 1%. Ini jadi satu benchmark," pungkasnya. (ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed