Pada kuartal I-2017 pengelola bioskop CGV Cinema ini masih menderita kerugian sebesar Rp 6 miliar. Pada laporan keuangan di 2016 juga tercatat rugi Rp 15 miliar. Kendati begitu jumlah kerugian di 2016 mengalami penurunan dari kerugian di 2015 sebesar Rp 36 miliar.
Tren penurunan kerugian itulah yang membuat perseroan optimistis bisa meraup laba di tahun ini. Sayangnya manajemen Graha Layar Prima masih malu-malu menyebutkan angka target laba tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun perseroan merasa yakin tahun ini pendapatan bisa meningkat 60% dari pendapatan di 2016 sebesar Rp 574,97 miliar. Penjualan tiket juga ditargetkan meningkat dari 10 juta tiket di 2016 menjadi 16 juta tiket tahun ini.
Untuk mendukung target tersebut, perusahaan yang 51% sahamnya dikuasai perusahaan asal Korea Selatan itu melakukan efisiensi dari sisi SDM. Efisiensi itu sudah dilakukan sejak tahun lalu, hal itulah yang membuat kerugian semakin menurun.
"Kita juga terapkan 1 gate satu petugas, jadi tidak setiap layar ada petugas. Kita juga ada self ticket mesin," terangnya.
Selain itu, perseroan juga berencana menambah 15 bioskop baru dengan total 95 layar baru. Adapun jumlah bioskop yang dulunya bernama Blitz Megaplex itu saat ini sebanyak 29 Bioskop dengan total sebanyak 199 layar.
Dari 15 bioskop baru itu sebagian besar akan dibangun di wilayah-wilayah yang belum ada bioskop. Seperti diantaranya, Tegal, Pekanbaru, Mataram, dan Gresik.
"Seperti tahun lalu kita buka di Mojokerto, di sana memang belum ada cinema. Jadi kita satu-satunya di sana," imbuhnya.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditures/capex) sebesar Rp 500 miliar. Dana tersebut akan diambil dari kas internal dan sebagian lagi dari pendanaan eksternal.
Foto: Danang Sugianto/detikFinance |












































Foto: Danang Sugianto/detikFinance