Saham Blue Chip, Incaran yang Menguntungkan

Saham Blue Chip, Incaran yang Menguntungkan

Tung Desem Waringin - detikFinance
Rabu, 24 Mei 2017 06:42 WIB
Saham Blue Chip, Incaran yang Menguntungkan
Foto: Istimewa
Jakarta - Menempatkan dana di pasar saham menjadi salah satu pilihan untuk berinvestasi. Seorang investor yang berpengalaman bisa meraup keuntungan dari puluhan hingga ratusan juta rupiah. Menjalankan investasi di pasar saham memang dapat mendatangkan banyak uang.

Namun, sebelum benar-benar terjun ke investasi ini, Anda sebaiknya perlu memahami saham unggulan di bursa efek, yakni saham blue chip. Apakah itu saham blue chip? Berikut ini ulasannya.

Apa Itu Saham Blue Chip?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbicara tentang saham blue chip, Anda perlu mengetahui sejarah dari saham blue chip itu sendiri. Saham blue chip atau Saham Lapis Satu merupakan jenis saham dengan kapitalisasi pasar tertinggi di atas Rp 10 triliun. Perusahaan yang sahamnya masuk kategori ini memiliki reputasi ditinjau dari sisi fundamental.

Penggunaan istilah blue chip sendiri berasal dari salah satu permainan di dunia judi, yakni poker. Dalam permainan ini, taruhan yang digunakan menggunakan tiga keping koin dengan warna merah, putih, dan biru. Warna biru umumnya memiliki nilai yang paling besar.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada 1923 oleh Oliver Gingold. Saat itu ia sedang mengamati pergerakan saham di pasar modal. Ada beberapa transaksi menarik yang terjadi saat itu dengan saham-saham berharga US$ 200-US$ 250. Saham-saham tersebut menjadi saham yang banyak menarik minat investor.

Sepulang dari pasar saham ia meminta rekannya untuk menulis tentang blue chip stock (saham blue chip). Hingga kini istilah tersebut masih digunakan.

Karakteristik Saham Blue Chip
Ada beberapa karakteristik yang terdapat pada saham blue chip, di antaranya:

1. Saham Blue Chip Memiliki Kapitalisasi Besar
Saham bisa dikatakan sebagai saham blue chip apabila saham perusahaan tersebut memiliki kapitalisasi pasar yang cukup besar. Nilainya hingga triliunan rupiah. Besarnya nilai kapitalisasi pasar ini akan membuat pemain saham atau investor sulit untuk memanipulasi harga.

2. Saham Blue Chip Punya Likuiditas Bagus
Selain nilai kapitalisasi yang besar, perlu dilihat seberapa besar saham perusahaan tersebut dimiliki publik atau beredar di bursa. Jika kepemilikan publik terlalu sedikit, besar kemungkinan harga saham mudah untuk dimanipulasi sehingga menjadikan saham tersebut tidak likuid di pasar saham. Sebaliknya jika saham tersebut mempunyai tingkat kepemilikan yang tinggi, itu artinya saham itu terbilang likuid.

3. Makin Lama Berada di Bursa, Sahamnya Memungkinkan untuk Masuk Saham Blue Chip
Makin lama saham perusahaan berada di bursa juga menjadi kategori yang penting dalam penentuan saham tersebut bisa dikatakan sebagai saham blue chip atau bukan. Biasanya patokan yang diambil adalah minimal lima tahun.

4. Kinerja Perusahaan adalah Tolok Ukur dari Saham Blue Chip
Kategori keempat adalah bagaimana kinerja dari perusahaan yang menjual sahamnya di bursa. Apakah bisa menghasilkan laba setiap tahunnya? Apakah bisa mencetak laba yang selalu meningkat setiap tahunnya? Apakah nilai laba yang dihasilkan bisa cukup besar dibandingkan dengan modal perusahaan?

Dengan mengambil patokan jangka waktu lima tahun, perlu diketahui bagaimana stabilitas kinerja perusahaan tersebut. Perusahaan yang selalu berhasil mencetak laba setiap tahunnya apabila satu tahun mengalami penurunan, tahun berikutnya harus bisa naik. Hal ini bisa menjamin pemegang saham untuk tetap bisa mendapatkan dividen setiap tahunnya. Saham perusahaan seperti ini bisa dikatakan sebagai saham blue chip.

Keuntungan Investasi Saham Blue Chip

Apakah investasi di saham blue chip apakah akan selalu mendapatkan untung? Jawabannya adalah tidak. Karena bila memang selalu dan pasti memberikan keuntungan, tidak akan ada investor yang akan berinvestasi di saham perusahaan kecil atau Saham Lapis Tiga. Yang akibatnya perusahaan kecil menjadi sulit untuk berkembang dan mustahil untuk masuk menjadi saham blue chip.

Dalam bursa saham, setiap saham perusahaan memiliki potensi untuk memberikan keuntungan kepada pemiliknya. Bukan tidak mungkin Saham Lapis Tiga lebih banyak menyumbangkan keuntungan daripada saham blue chip.

Meskipun begitu, banyak investor yang sudah berpengalaman dan manajer investasi yang menyarankan kepada investor pemula untuk mulai berinvestasi di saham blue chip saja. Kenapa? Saham blue chip biasanya memiliki nilai saham yang lebih stabil. Selain itu, risikonya cenderung kecil daripada Saham Lapis Dua apalagi Lapis Tiga.

Perlu diperhatikan saat akan berinvestasi di saham blue chip adalah kendala harganya yang biasanya lebih tinggi daripada saham lainnya. Akan dibutuhkan modal yang cukup besar untuk memulai investasi pada jenis saham ini.

Ingin Aman? Investasikan ke Blue Chip

Dari artikel di atas bisa disimpulkan bahwa dana investor pemula akan lebih aman di saham blue chip ketimbang saham-saham lainnya. Sementara investor yang sudah kenyang dengan pengalaman, biasanya bermain lebih fleksibel dengan membeli saham blue chip dan saham second liner (Lapis Dua). Risiko berinvestasi di saham blue chip terbilang minim. Walaupun begitu, harganya mahal dan perlu modal besar untuk memulai investasi.

Mau Menjadi Kaya Atau Bahkan Lebih Kaya di Tahun 2017? Download Sekarang Juga "61 Cara Menjadi Kaya by Tung DW dan Robert T.Kiyosaki" seharga Rp 997.000. Khusus Untuk 100 Orang Pembaca detikFinance Hari Ini, Saya Kasih GRATIS, Klik di Sini Untuk Download. (wdl/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads