Cash Flow Terus Negatif
Garuda Rugi Rp 139 Miliar
Jumat, 29 Apr 2005 13:33 WIB
Jakarta - Garuda nampaknya masih sulit untuk 'terbang'. Maskapai ini kian tergencet posisinya dan terus mencatat rugi, dimana hingga triwulan I Garuda menderita rugi operasi yang cukup besar hingga Rp 139 miliar. Cash flownya pun negatif.Angka kerugian tersebut berarti membengkak hingga 87 persen dibandingkan kerugian selama triwulan I 2004 sebesar Rp 74 miliar. Sementara selama tahun 2004, total kerugian operasional Garuda mencapai Rp 618 miliar. "Dari sisi operasi, lebih dari 50 persen penerbangan Garuda mengalami kerugian," ujar Dirut Garuda Emirsyah Satar dalam jumpa pers di Financial Club Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (29/4/2005).Posisi modal Garuda juga turun 50 persen, dimana tahun 2004, modal Garuda turun lagi menjadi hanya Rp 1,6 triliun. Emirsyah menambahkan, setelah melaksanakan restukturisasi utang pada tahun 2001, ekuitas Garuda Indonesia mencapai Rp 3,1 triliun, sedangkan pada tahun 2003, turun menjadi Rp 2,2 triliun. "Selain mengalami kerugian, Garuda juga masih dibelit utang yang jumlahnya mencapai US$ 826,5 juta, yang terdiri atas US$ 681,4 juta berupa utang dan sisanya US$ 145,1 juta berupa mandatory convertible bond (MCB). Garuda, kata Emirsyah, setiap tahun kita harus membayar US$ 110 juta, untuk membayar bunga dan pokoknya. Rata-rata kerugian Garuda mencapai Rp 1,6 miliar per hari. Emirsyah menjelaskan, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi Garuda di masa yang akan datang diantaranya adalah kompetisi yang ketat dari persaingan penerbangan domestik dan internasional. Selain itu juga masuknya low carrier cost asing, melonjaknya harga minyak, regulasi dan open sky, sulitnya mencari pendanaan baru dan airport congestion. Namun Emir mengakui, dalam Garuda telah memperoleh kenaikan jumlah penumpang. "Beberapa tahun yang lalu, jumlah penumpang hanya 9 juta per tahunnya. Sekarang meningkat menjadi 22 juta per tahunnya. Ini merupakan tantangan bagi Garuda agar bisa mengatasi congestion," tegas Emirsyah. Emisyah menambahkan, pada tahun 2005 ini, Garuda akan menambah armada citilinknya. Namun mengenai jumlah pastinya, Emir belum bisa memastikan. Dalam kaitan dengan kondisi yang terus merugi, Garuda telah menyusun sejumlah rencana diantaranya menata ulang seluruh aspek operasi, bisnis dan manajemen. "Agar penerbangan garuda kembali menjadi penerbangan tepat waktu dengan kualitas pelayanan yang prima," tukas Emirsyah. Langkah-langkah yang akan segera dilaksanakan dari segioperasional diantaranya adalah meningkatkan on time performance (penerbangan tepat waktu/OTP). "OTP rata-rata tahun 2004 mencapai 79,36 persen. Kita menargetkan OTP 85 persen pada tahun ini," katanya.Dari segi keuangan Garuda akan melakukan negosiasi dengan suplier, mengintensifkan e-procurement, pengenaan fuel surcharge, melanjutkan penjualan aset non produktif dan memperbaiki modal kerja. "Sehingga operasi tetap berjalan lancar," demikian mantan Wakil Dirut Bank Danamon ini.
(qom/)











































