Setelah 2 Tahun Rugi, Kini Indosat Bisa Dividen Rp 385 M

Setelah 2 Tahun Rugi, Kini Indosat Bisa Dividen Rp 385 M

Muhammad Idris - detikFinance
Rabu, 24 Mei 2017 17:46 WIB
Setelah 2 Tahun Rugi, Kini Indosat Bisa Dividen Rp 385 M
Foto: Latihan di Gedung Indosat/ Ibnu detikcom
Jakarta - Setelah mencatatkan untung pada tahun 2016 lalu sebesar Rp 1,1 triliun, PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) mengumumkan rencana pembagian dividen sebesar Rp 71,18 per lembar saham.

Presiden Direktur Indosat Ooredoo, Alexander Rusali, mengatakan pihaknya mengalokasikan 35% dari laba bersih 2016 untuk pembagian dividen atau Rp 385 miliar.

"Untuk pembagian dividen kita 35% dari laba kita tahun 2016, atau per lembar sahamnya Rp 71,18," ujar Rusli usai RUPS di kantor pusat Indosat, Jakarta, Rabu (24/5/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indosat sendiri baru bisa membukukan laba pada tahun 2016. Sebelumnya selama 2 tahun berturut-turut, operator seluler tersebut merugi yakni Rp 1,31 triliun di tahun 2015, dan rugi Rp 2 triliun di tahun 2014.

"Kombinasi perbaikan dalam operasional perusahaan dengan stabilnya pergerakan nilai tukar, serta rendahnya utang dalam dolar AS, menghasilkan laba bersih positif di tahun 2016," jelas Rusli.

Pada kesempatan tersebut, Rusli juga memaparkan kinerja perseroan di kuartal pertama 2017 yang juga menunjukan catatan positif.

"Laba bersih turun dari Rp 217 miliar menjadi Rp 174 miliar. Sementara pendapatan konsolidasi meningkat 7% dari Rp 6,81 triliun menjadi Rp 7,29 triliun," ungkap Rusli.

Dari sisi segmen pendapatan, pendapatan seluler masih jadi kontributor tertinggi yakni sebesar Rp 6,05 triliun, kemudian diikuti dengan pendapatan MIDI (multimedia, data, dan internet) Rp 998 miliar, dan telepon tetap Rp 241 miliar.

Jika dirinci lebih lanjut, pendapatan seluler dari telepon turun 4,8% dibandingkan dengan kuartal yang sama di 2016, sms turun 10,9%, data naik 40,5%, dan VAS naik 32,2%.

"Pendapatan data menjadi penentu pertumbuhan. Layanan telepon melalui aplikasi mulai menggantikan layanan telepon tradisional, dan layanan pesan melalui data semakin menggantikan SMS," jelas Rusli. (idr/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads