Rayakan Ultah BEI ke-25, Dirut: Bursa RI Beri Keuntungan Terbesar

Rayakan Ultah BEI ke-25, Dirut: Bursa RI Beri Keuntungan Terbesar

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 13 Jul 2017 11:22 WIB
Rayakan Ultah BEI ke-25, Dirut: Bursa RI Beri Keuntungan Terbesar
Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Keriuhan hari ini terjadi di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebab ada perhelatan guna merayakan hari jadinya BEI ke-25 tahun.

Tepat pada 13 Juli 1992 BEI terlahir kembali. Sebenarnya bukan pertama kali lahir, tapi saat itu telah dimulai swastanisasi BEI dari sebelumnya dikelola oleh Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).

Direktur Utama BEI periode saat ini, Tito Sulistio, merayakannya dengan mengundang hampir seluruh jajaran Dewan Komisaris dan Direksi BEI sejak 1992 hingga saat ini. Sebab menurutnya peran mereka terhadap perkembangan pasar modal sangatlah penting.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bursa kita saat ini memberikan return terbesar di dunia. Tapi itu semua tidak akan bisa terjadi kalau Pak Hasan Zein tidak menswastanisasi ini," tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (13/7/2017).

Tidak hanya itu, Tito juga mengenang kejadian-kejadian pahit yang pernah menimpa BEI. Seperti kejadian bom yang menimpa gedung Bursa Efek Jakarta pada 2000. Itu semua, katanya menjadi pelajaran yang berarti bagi penerus BEI.

"Tidak terjadi kalau Pak Damiri tidak memulai efek kliring, Pak Erry Firmansyah, jika tidak memulai belum bisa menghandle kejadian pemboman. Pak Ito juga, kita tidak bisa mendapatkan best supporting muslim terbesar, jika Pak Ito tidak mendapatkan Fatwa MUI," tukasnya.

Peringatan HUT BEI ke-25 hari ini juga diisi dengan pemberian pernyataan dari masing-masing Direktur Utama BEI sebelumnya. Acara ini ditutup dengan peniupan lilin dan potong tumpeng yang dilakukan oleh Dewan Direksi BEI saat ini.

Mantan Komisaris dan Direksi BEI sejak periode 1992 yang diundang, sebagian diberi kesempatan memberikan pesan-pesan terhadap jajaran Direksi dan Komisaris BEI saat ini.

Fuad Bawazier, yang menjadi Komisaris Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 1996-1998 mengaku kenangan yang tidak terlupakan ada ketika dirinya mengejar pajak emiten. Sebab kala itu dia juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak.

"Membanggakan sekali jika melihat sekarang sudah seperti ini. Yang saya perhatikan, kebetulan saya dulu Dirjen Pajak, kalau mau diperiksa para emiten pasti ngumpet lari semua," tuturnya disambut gelak tawa para tamu undangan.

Sementara mantan Direktur Utama BEJ periode 1991-2002, Mas Achmad Daniri, mengenang ketika transaksi di pasar modal masih secara manual. Lantai bursa saat itu sangat ramai dipadati para broker setiap harinya. Menurutnya ada perubahan yang sangat besar di pasar modal dengan era digitalisasi saat ini.

"Saya ingat betul waktu itu transaksi masih pakai papan transaksi. Memindahkan settlement saham itu ngangkutnya pakai truk. Kalau sekarang sudah tinggal dibukukan saja," kenangnya.

Sementara mantan Direktur Utama BEI periode 2002-2009, Erry Firmansyah, justru mengenang sulitnya mencapai target 1 juta emiten. Sebab hingga saat ini belum tercapai.

"Alhamdulillah bursa meningkat semakin baik berkat penanganan dari direksi sebelumnya sampe saat ini. Kami berharap bisa lebih tinggi lagi. Target 1 juta itu menjadi tantangan, hingga saat ini belum tercapai. Mudah-mudahan di tangan Pak Tito bisa tercapai," tuturnya.

Sementara mantan Direktur Utama BEI periode sebelumnya, Ito Warsito, hanya menitipkan pesan kepada para karyawan BEI. Dia ingin mereka bekerja lebih keras agar bisa juga duduk di kursi kepemimpinan BEI.

"Langkah BEI sangat panjangan banyak target-target yang harus dicapai dan dilampaui. Itu ada beban di pundak generasi sekarang dan selanjutnya. Ingat juga tanggung jawabnya kepada karyawan-karyawan pasar modal. Kalian semua suatu saat juga harus maju ke depan," tukasnya. (wdl/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads