Anggota Bursa Menggugat Rencana Merger NYSE dengan ArcaEx
Selasa, 10 Mei 2005 10:31 WIB
Jakarta - Rencana ambisius New York Stock Exchange (NYSE) untuk menjadi bursa terbesar di dunia dengan mengakuisisi bursa elektronik Archipelago Holdings (ArcaEx) nampaknya tidak berjalan mulus. Anggota Bursa NYSE telah mengajukan gugatan menentang rencana merger itu. Seperti dilansir AFP, Selasa (10/5/2005), gugatan tersebut telah diajukan ke Mahkamah Agung negara bagian New York. Menurut pengacara yang mewakili anggota bursa William Higgins, Jay Eisenhofer, kesepakatan tersebut dinilai tidak fair dan hanya menguntungkan ArcaEx. Sementara 1.366 anggota bursa NYSE yang secara kolektif memiliki NYSE dirugikan.Seperti diketahui, New York Stock Exchange (NYSE) pada bulan lalu telah mengumumkan rencananya untuk segera merger dengan bursa elektronik Archipelago Exchange (ArcaEx) agar menjadi bursa terbesar di dunia. Keduanya akan bergabung dengan nama NYSE Group Inc, dan menjadi sebuah perusahaan dengan orientasi bisnis. Chief executive NYSE John Thain dalam pengumuman sebelumnya mengatakan, tujuan dari kesepakatan ini adalah untuk menciptakan kompetitor dunia yang sesungguhnya yang dapat berkompetisi dengan siapapun di dunia. ArcaEx sendiri merupakan bursa yang mengoperasikan perdagangan secara elektronik penuh sejak tahun 1996. Para pelanggan ArcaEx dapat memperdagangkan melalui lebih dari 8.000 sekuritas di NYSE, Nasdaq ataupun pasar saham AS lainnya. NYSE yang dimiliki 1.366 anggota bursa akan menerima US$ 400 juta tunai dan 70 persen saham dalam perusahaan baru. Sementara pemegang saham ArcaEx akan mempertahankan 30 persen sahamnya. Dengan menggunakan nilai penjualan kursi NYSE terbaru sebesar US$ 1,62 juta, nilai NYSE secara kasar mencapai US$ 2,2 miliar. Sementara Archipelago senilai US$ 844 juta. Lebih jauh pengacara penggugat, Eisenhofer mengatakan, para penggugat juga tengah mempertimbangkan untuk mengajukan gugatan class action dan menuntut direktur NYSE dengan tuduhan melanggar kewajiban fiducia. Gugatan itu juga ditujukan kepada Goldman Sachs yang telah menjadi penasihat keuangan kedua belah pihak, sehinga berpotensi menimbulkan conflict of interest."Anda hanya harus melakukan perhitungan matematika untuk mengerti tidak adilnya kesepakatan ini," kata Eisenhofer. Dia menjelaskan, merger ini hanya menghargai nilai NYSE sebesar kurang dari US$ 3 miliar, yang dinilai sebagai angka yang sungguh-sungguh undervalue. Padahal NYSE merupakan bursa terbesar, dengan rata-rata volume perdagangan harian sebesar 1,63 miliar lembar saham senilai US$ 56 miliar. Eisenhofer menjabarkan pesaing NYSE seperti Chichago Mercantile Exchange yang memiliki nilai US$ 7 miliar, padahal volume perdagangan dan kapitalisasi pasarnya lebih rendah dari NYSE. Demikian pula Toronto Stock Exchange senilai US$ 1,7 miliar dengan volume perdagangan harian sekitar sepersepuluh NYSE. "Kami pada prinsipnya tidak keberatan dengan merger ini. Namun apa yang saya dan teman-teman anggota bursa lakukan ini adalah bertujuan untuk menggugat pasal-pasal kesepakatan dan pelanggaran kewajiban oleh direktur NYSE. Kami juga merasa tersinggung dengan cara Goldman Sachs yang telah memanipulasi kesepakatan ini untuk mendapatkan keuntungan sendiri," urai William Higgins.
(qom/)











































