Bank Bukopin Catatkan Sahamnya di Bursa 6 Juli
Rabu, 11 Mei 2005 10:02 WIB
Jakarta - Bank Bukopin akan mencatatkan 2.049.144.500 lembar sahamnya di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) pada 6 Juli mendatang. Saham yang akan ditawarkan ini nantinya akan bernominal Rp 100.Demikian prospektus yang diumumkan Bank Bukopin, Rabu (11/5/2005). Namun prospektus ini belum mendapat persetujuan dari Bapepam. Diharapkan pernyataan efektif penawaran umum ini bisa diperoleh pada 24 Juni 2005. Dalam penawaran umum ini, Bank Bukopin menunjuk penjamin emisi dari PT ABN Amro Asia Securities Indonesia. Sementara Yabinstra (Yayasan Bina Sejahtera Warga Bulog) dan Kopelindo (Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia) sebagai pemegang saham mayoritas Bank Bukopin telah memberikan opsi kepada penjamin emisi tersebut. Opsi yang diberikan tersebut adalah, penjamin emisi dapat meningkatkan dan menjual saham yang ditawarkan sampai dengan jumlah sebanyak-banyaknya 307.371.500 lembar saham atas nama kelas B milik Yabinstra dan Kopelindo. Peningkatan itu akan dilakukan 30 hari sejak tanggal pencatatan saham. Rencananya, Bank Bukopin akan menggunakan sekitar 70 persen dana hasil penawaran umum ini untuk pengembangan kredit dan penjualan produk-produk keuangan kepada nasabah. Sementara sisanya, sebesar 15 persen akan digunakan untuk perluasan jaringan kerja termasuk pembukaan kantor-kantor cabang-cabang pembantu, kantor kas dan payment points. Sedangkan sekitar 10 persennya akan digunakan untuk meng-up grade sistem teknologi informasi dan 5 persen sisanya akan digunakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kinerja Bank Bukopin per 31 Desember 2004 secara konsolidasi adalah pendapatan bunga bersih sebesar Rp 862 miliar, laba bersih Rp 210 miliar atau lebih besar dibandingkan tahun 2003 sebesar Rp 180 miliar. Jumlah aktiva mencapai Rp 18,415 triliun, atau meningkat dibandingkan tahun 2003 sebesar Rp 17,558 triliun. Sementara jumlah kewajiban mencapai Rp 17,374 triliun, atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya Rp 16,673 triliun. Sementara rasio keuangannya adalah CAR 15,4 persen, LDR 85,2 persen, NPL 3,4 persen.Dalam prospektus itu Bank Bukopin juga menyebutkan adanya risiko usaha yang kemungkinan dihadapi perseroan yakni risiko likuiditas akibat adanya kesenjangan antara sumber pendanaan yang umumnya berjangka pendek dan aktiva yang umumnya berjangka penjang. Apabila terdapat kewajiban jangka pendek dalam jumlah yang signifikan yang tidak dapat diperpanjang pada saat jatuh tempo, maka akan mempengaruhi kemampuan Bank Bukopin untuk memenuhi kewajibannya. Bank Bukopin juga mengaku saat ini terlibat dua masalah hukum yakni perkara dengan Bank Pinaesaan terkait gugatan bank tersebut untuk membatalkan perpanjangan jaminan kredit yang dilakukan Bank Bukopin. Namun Bank Bukopin menyatakan telah mencadangkan Rp 20 miliar yang termasuk di dalamnya nilai pokok gugatan berikut bunganya. Kasus hukum lainnya adalah dengan BRI sehubungan dengan adanya gugatan dari BRI untuk membatalkan perjanjian kredit antara Bank Bukopin dan PT Titotama Arindra untuk menyatakan pembatalan pemblokiran dana di rekening PT Titotama Arindra di BRI. Nilai gugatan kasus ini mencapai Rp 20 miliar.
(qom/)











































