Namun menurut, Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat hal itu bukan karena saham emiten itu tidak laku, melainkan karena banyak dari investor yang telah memiliki sahamnya enggan melepas.
"Kelihatannya banyak investor yang enggak mau lepas, yang beli banyak tapi sayang melepasnya," tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Senin (7/8/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Samsul, saham NASA cukup menarik. Sebab emiten ini juga mengeluarkan waran seri I sebanyak 2,7 miliar lembar atau 33,75% dari jumlah modal yang disetor. Waran seri I ini sebagai insentif yang diberikan secara cuma-cuma kepada pemilik saham baru.
Setiap pemegang 10 lembar saham baru akan mendapatkan 9 waran seri I. Setiap 1 lembar waran berhak untuk membeli 1 saham baru dengan jangka waktu pelaksanaan 3 tahun.
"Karenakan ada pemanisnya, ada waran kalau punya 10 saham dapat 9 waran dan waran bisa beli di Rp 105. Bayangin kalau misalnya harga naik jadi Rp 200, kan lumayan untungnya Rp 95," tukasnya.
Sekadar informasi, perseroan melepas sebanyak 3 miliar lembar saham baru atau sebanyak 27,27% dari modal yang disetor penuh dan ditempatkan perusahaan. Dengan harga saham yang ditawarkan tersebut maka perseroan berhasil meraup dana segar sebesar Rp 309 miliar.
Sekitar 25% dari dana segar hasil IPO itu akan digunakan untuk meningkatkan penyertaan modal pada entitas anak PT Ayana Hotels Indonesia. Entitas anak itu akan meningkatkan kembali penyertaan modal kepada entitas anaknya PT Samudra Parama Avirodha.
Lalu sekitar 75% akan digunakan untuk meningkatkan penyertaan modal ke PT Ayana Property Internasional (API). Selanjutnya PT API menyalurkan kembali sekitar 33% sebagai pinjaman ke PT Akasa Legian Karya untuk pengembangan proyek dan 67% untuk PT Mandiri Berdikari Jayaraya yang akan memberikan pinjaman ke PT Duta Nusantara Utamakarya. (ang/ang)











































