Seperti dikutip dari siaran pers, Rabu (9/8/2017), perusahaan pelat merah itu membukukan pendapatan Rp 8,97 triliun di Semester I-2916, naik 32,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp 6,76 triliun.
Peningkatan pendapatan ini sebagai hasil dari upaya Perseroan dalam melakukan penetrasi pasar untuk menjual batu bara Low to Medium Range Calorie pada saat membaiknya harga batu bara dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peningkatan penjualan karena meningkatnya permintaan atas batu bara Bukitasam-48 dan Bukitasam-50 baik pasar ekspor maupun domestik. Komposisi penjualan batu bara domestik pada periode Januari-Juni 2017 sebesar 63,4% dan untuk pasar ekspor sebesar 36,6%.
Meskipun terjadi peningkatan volume produksi sebesar 23,3% dan volume penjualan sebesar 13,4% pada periode Januari-Juni 2017, tetapi sejalan dengan efisiensi dan optimasi yang dilakukan Perseroan maka Beban Pokok Penjualan dapat dikendalikan hanya naik 10% dibandingkan tahun lalu.
Total produksi periode Januari-Juni tercapai 9,43 juta ton atau 123,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,65 juta ton, sedangkan pembelian tercapai 172 ribu ton.
Seiring dengan optimasi perencanaan dan operasional penambangan, nisbah kupas (Stripping Ratio) rata-rata di Tambang Tanjung Enim periode Januari-Juni 2017 menunjukkan penurunan yaitu dari 5,47 pada tahun 2016 menjadi 3,93 pada tahun 2017.
Sementara itu, volume angkutan Kereta Api periode Januari-Juni 2017 mencapai 10,2 juta ton atau naik 20,7% dibandingkan volume angkut pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 8,5 juta ton.
Royalti yang dibayarkan kepada Pemerintah Republik Indonesia meningkat dari Rp 383,97 miliar di tahun 2016 menjadi Rp 634,29 miliar di tahun 2017 atau naik 65,2%.
Pada tahun 2017, Perseroan menganggarkan Rp 2,02 triliun, terdiri dari Rp 1,48 triliun untuk investasi rutin dan non rutin, dan sisanya Rp 520 miliar untuk investasi pengembangan. (ang/mca)











































