Follow detikFinance
Jumat 11 Aug 2017, 07:04 WIB

Cara Mengenal Saham yang 'Digoreng'

Danang Sugianto - detikFinance
Cara Mengenal Saham yang Digoreng Foto: Ari Saputra
Jakarta - Saham gorengan memang sangat menggiurkan. Jika masuk dan keluar di saat yang tepat, kita bisa mengambil keuntungan yang besar. Tentu harus dengan strategi yang benar agar tidak menjadi mangsa sang bandar pengoreng saham.

Layaknya makanan gorengan yang mengandung kolesterol, saham gorengan bisa memberikan penyakit buat kita. Tapi jika dikonsumsi dengan benar dengan kadar yang tepat tidak ada salahnya menikmatinya. Untuk menikmati saham gorengan tentu harus mengetahui dulu ciri-ciri saham yang sedang digoreng.

Menurut praktisi pasar modal, inspirator investasi, serta penulis buku Bandarmology, Ryan Filbert, cara mudah melihat saham sedang digoreng atau tidak dengan melihat kinerja keuangan perusahaan dan bandingkan dengan harga saham saat ini. Jika kinerjanya biasa-biasa saja atau bahkan buruk, tapi sahamnya terus menguat itu sudah pasti digoreng.

"Harga sahamnya bagus, tapi laporan keuangannya jelek, tiba-tiba mau nerbitin MTN (Medium Term Notes), itu tanda tanya besar. Itu rawan," tuturnya kepada detikFinance, Kamis (10/8/2017).

Ada berbagai variabel untuk melihat nilai kewajaran sebuah saham dari laporan keuangannya. Seperti melihat dari indikator Price Earning Ratio (PER) dengan harga saham dibagi laba persaham, lalu bandingkan dengan emiten di industri yang sama.

Lalu bisa juga dengan melihat Price to Book Value (PBV), harga saham dibagi nilai buku per saham, lalu dibandingkan juga dengan emiten sejenis. Jika PER dan PBV-nya lebih besar dari emiten lainnya terindikasi digoreng.

Selain itu, kata Ryan, biasanya saham-saham yang digoreng merupakan saham kecil dan tidak likuid. Hal itu agar tidak ada oknum pengoreng saham bisa leluasa melancarkan praktiknya.

"Kalau ada pemain lain yang punya lebih besar ya susah," imbuhnya.

Selain itu, saham-saham yang sedang digoreng biasanya dibalut juga dengan rumor yang belum tentu kebenarnya. Rumor dihembuskan agar investor ritel yang menjadi mangsa semakin percaya untuk membeli saham tersebut.

Kendati begitu menurut Ryan, sebenarnya sangat sulit untuk mengetahui sampai level mana kenaikan saham yang sedang digoreng. Tidak ada cara yang pasti untuk menganalisanya.

"Susah buat ditentukan. Paling pakai hitungan technical fibonacci. Mengandai-andai pakai teori matematika dalam sebuah perdagangan yang aneh. Karena pasar itu invisible hand. Kita enggak tahu hatinya si bandit," tukasnya. (wdl/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed