Follow detikFinance
Minggu 13 Aug 2017, 12:20 WIB

Terbuat dari Fosil Kayu 5 Juta Tahun, Berapa Harga Banteng Wulung?

Danang Sugianto - detikFinance
Terbuat dari Fosil Kayu 5 Juta Tahun, Berapa Harga Banteng Wulung? Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Ibu Kota Jakarta kembali memiliki ikon baru berupa patung Banteng Wulung. Patung yang menjadi ikon pasar modal Indonesia itu berada di teras Gedung Bursa Efek Indonesia yang menghadap Jl Jenderal Sudirman.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio menjelaskan arti dari patung Banteng Wulung. Banteng sendiri memang sudah menjadi ikon seluruh pasar modal di dunia. Apalagi masyarakat pasar modal sangat akrab dengan sebutan bullish yang mengartikan penguatan harga saham dan bearsih yang mengartikan pelemahan.

"Begini, pertama kenapa banteng selalu berbicara banteng dan beruang, bull and bear. Banteng itu kalau tanduk selalu ke atas makanya di sebut bullish. Kalau beruang itu ngegaruk ke bawah dan beruang kalau tidur lama makanya disebut bearish. Jadi di seluruh dunia lambang dari bursa diharapkan bullish terus," terangnya di Gedung BEI, Jakarta, Minggu (13/8/2017).



Namun menurut Tito patung banteng di Indonesia terasa lebih spesial. Sebab patung Banteng Wulung ini terbuat dari fosil kayu.

"Di Amerika Serikat ada namanya Charging Bull terbuat yang dari perunggu. Di Cina dari perunggu, ada yang dari batu dan semen, kita fosil kayu," tambahnya.

Tidak hanya itu, lanjut Tito, Charging Bull di Wall Street AS dibuat oleh pematung dari Italia, Arturo Di Modica. Sementara di Indonesia dibuat oleh pematung dari Bali I Made Budiarsa. Pematungnya dali dalam negeri sendiri.

Selain itu, nama Bateng Wulung diambil dari cerita rakyat tentang kerajaan Pasundan. Dalam cerita itu terdapat sosok banteng kuat berwarna hitam yang menjaga kerajaan.

"Bantengnya hitam, gesit, larinya kenceng dan menjaga negara, memberikan kesejahteraan. Makanya kita sebut Banteng Wulung. Jadi benar-benar asli Indonesia, kayunya, pemahatnya, dan bantengnya. Jadi ini kebudayaan dan ini menjadi ikon pariwisata DKI Jakarta," tambah Tito.

Menariknya lagi, bahan fosil kayu dari Banteng Wulung ternyata berusia sekitar 2,5-5,6 juta tahun. Data tersebut diperoleh setelah diteliti oleh Institut Teknologi Bandung (ITB). Tito menyebut harga dari patung banteng tersebut tak sampai Rp 1 miliar, meski dia tak menyebut angka pastinya.

"Jadi sudah memfosil, ditemukan 30 meter di bawah tanah. Kalau negara lain terbuat dari perunggu atau dari batu dan semen, kita kayu yang umurnya sekitar 2,5-5,6 juta tahun," tukasnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed