Bahana Luncurkan Reksadana ABF Indonesia Bond Index Fund
Selasa, 17 Mei 2005 16:07 WIB
Jakarta - Indonesia mendapat alokasi investasi dari Asian Bond Fund 2 (ABF 2) sebesar 6,14 persen dari total investasi seluruhnya yang mencapai US$ 2 miliar. Pengelolaan dana ABF itu dilakukan Bahana TCW Investment Management. Sebagai langkah awal untuk pengelolaan investasi tersebut, Bahana TCW memperkenalkan Reksadana ABF Indonesia Bond Index Fund (ABF Indonesia Fund) sebanyak 25 miliar unit penyertaan atau senilai total Rp 25 triliun. Alokasi investasi reksadana itu terutama ditempatkan pada obligasi pemerintah dan obligasi BUMN, di mana target pengelolaan ini adalah investor yang bermodal besar yang bisa menempatkan dananya hingga Rp 500 miliar.Demikian disampaikan Dirut Bahana TCW, Dwina S Wijaya dalam jumpa pers di Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (17/5/2005). ABF dibentuk oleh Executive Meeting of East Asia and Pacific Central Bank (EMEAP) pada 12 Mei 2005.Menurut Dwina, dalam kesepakatan yang dibuat EMEAP sebelumnya, ABF 2 yang merupakan kelanjutan dari ABF 1, akan melakukan investasi pada obligasi berdenominasi mata uang lokal yang diterbitkan oleh sovereign dan quasi sovereign anggota EMEAP yang bersangkutan, kecuali Jepang, Australia dan Selandia Baru.Dwina menjelaskan, untuk ABF Indonesia Fund ini digunakan tolok ukur iBoxx ABF Indonesia Indeks yang baru diterbitkan oleh International Index Company (IIC) yang berkedudukan di Basel, Swiss. iBoxx ABF Indonesia sebagai acuan portofolio obligasi yang mencerminkan kinerja pasar obligasi di Indonesia secara keseluruhan, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pembanding bagi kinerja reksadana pendapatan tetap lainnya di Indonesia.Pada tahap pertama, investasi di ABF Indonesia Fund, hanya diperuntukkan bagi anggota EMEAP. Dan baru pada tahap kedua, yakni sekitar Juni, akan ditawarkan ke publik dengan target awal investor institusi dengan pembelian minimal Rp 100 juta. Kinerja ABF Indonesia Fund akan diukur berdasarkan tracking error (selisih) yang sekecil mungkin antara tingkat pengembalian antara ABF Indonesia Fund dengan tingkat pengembalian indeks tolok ukur. Untuk di Indonesia, tracking error yang ditargetkan kurang lebih 40 basis poin atau 0,4 persen. "Di negara lain, tracking error-nya bisa lebih kecil karena pasarnya sudah sangat likuid," kata Dwina. Dwina menjelaskan, dengan masuknya Indonesia dalam radar ABF, maka memungkinkan adanya dana masuk yang cukup besar ke Indonesia.
(qom/)











































