Di luar negeri perusahaan e-commerce memang sudah berkembang pesat. Namun di Indonesia e-commerce terbilang masih balita lantaran infrastruktur internet yang masih belum menyeluruh. Lalu seberapa menarik saham e-commerce untuk di koleksi?
Menurut Analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, prospek bisnis perusahaan e-commerce sebenarnya masih abu-abu. Tidak seperti di negara lain, Indonesia terbilang masih dalam tahap migrasi untuk bisnis online.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkembangan bisnis e-commerce juga tidak hanya tergantung pada tersediaannya infrastruktur internet. Menurut Reza kemauan masyarakat untuk melek teknologi juga menjadi penentu. Sebab masih ada masyarakat yang belum percaya untuk berbelanja online.
Atas dasar itu, Reza memandang saham e-commerce belum memiliki daya tarik bagi pelaku pasar. Masih ada pertanyaan besar seberapa cepat industri e-commerce akan berkembang besar.
Untuk saham Kioson sendiri, menurut Reza masih menarik lantaran harganya yang terbilang murah. Perusahaan e-commerce Online-to-Offline (O2O) itu menawarkan sahamnya di kisaran Rp 280-300 per lembar. Namun pelaku pasar mungkin hanya akan memanfaatkan potensi kenaikan dalam jangka pendek.
"Kemungkinan hari pertama atau kedua pergerakan sahamnya mungkin positif. Pelaku pasar memanfaatkan murahnya harga itu untuk ambil gain. Tapi kalau kedepan sustain apa enggak balik lagi ke managemen Kioson sendiri," tukasnya.
(ang/ang)











































