Masih 'Balita', Seberapa Menarik Saham e-Commerce?

Masih 'Balita', Seberapa Menarik Saham e-Commerce?

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 12 Sep 2017 12:18 WIB
Masih Balita, Seberapa Menarik Saham e-Commerce?
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Perusahaan e-commerce mulai kini mulai merambah pasar modal untuk mencari tambahan modal. Seperti PT Kioson Komersial Indonesia Tbk yang sudah melakukan due dilligence dan akan disusul oleh PT M Cash Integrasi (MCash).

Di luar negeri perusahaan e-commerce memang sudah berkembang pesat. Namun di Indonesia e-commerce terbilang masih balita lantaran infrastruktur internet yang masih belum menyeluruh. Lalu seberapa menarik saham e-commerce untuk di koleksi?

Menurut Analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, prospek bisnis perusahaan e-commerce sebenarnya masih abu-abu. Tidak seperti di negara lain, Indonesia terbilang masih dalam tahap migrasi untuk bisnis online.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang belum terlihat seberapa menariknya e-commerce ini. Kalau dari sisi peluang memang besar karena belum terlalu berkembang, tapi seberapa cepat menuju ke situ, itu balik lagi tergantung kondisi di lapangan," tuturnya kepada detikFinance, Selasa (12/9/2017).

Perkembangan bisnis e-commerce juga tidak hanya tergantung pada tersediaannya infrastruktur internet. Menurut Reza kemauan masyarakat untuk melek teknologi juga menjadi penentu. Sebab masih ada masyarakat yang belum percaya untuk berbelanja online.

Atas dasar itu, Reza memandang saham e-commerce belum memiliki daya tarik bagi pelaku pasar. Masih ada pertanyaan besar seberapa cepat industri e-commerce akan berkembang besar.

Untuk saham Kioson sendiri, menurut Reza masih menarik lantaran harganya yang terbilang murah. Perusahaan e-commerce Online-to-Offline (O2O) itu menawarkan sahamnya di kisaran Rp 280-300 per lembar. Namun pelaku pasar mungkin hanya akan memanfaatkan potensi kenaikan dalam jangka pendek.

"Kemungkinan hari pertama atau kedua pergerakan sahamnya mungkin positif. Pelaku pasar memanfaatkan murahnya harga itu untuk ambil gain. Tapi kalau kedepan sustain apa enggak balik lagi ke managemen Kioson sendiri," tukasnya.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads