Strategi Blue Bird Bertahan di Tengah Serbuan Taksi Online

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 05 Okt 2017 13:49 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) mengumumkan telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 250 karyawannya dan akan menjual aset-asetnya untuk memperbaiki kinerja keuangan. Kabar tersebut semakin memperjelas bahwa kondisi industri pertaksian semakin mengkhawatirkan.

Namun kompetitornya PT Blue Bird Tbk (BIRD) sepertinya bernasib lebih baik. Blue Bird menegaskan tidak ada langkah atau rencana PHK besar-besaran dalam waktu dekat. Meskipun diakui kondisi semakin berat semenjak maraknya transportasi online.

Pada semester I-2017 laba bersih perseroan turun 15,68% dari Rp 228,97 di periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp 193,07 miliar. Pada 2016 laba bersih Blue Bird juga turun dari Rp 824,02 miliar menjadi Rp 507,28 miliar.

Kendati begitu Blue Bird menunjukkan bahwa masih bisa bertahan tanpa melakukan efisiensi berlebihan hingga berujung PHK massal. Menurut Direktur PT Blue Bird Tbk (BIRD) Sigit Priawan salah satu faktor utamanya perseroan selalu mengedepankan pelayanan.

"Banya faktor yang memang mempengaruhi untuk bertahan, seperti kemampuan beradaptasi, pelayanan, finansial, strategi, banyak hal. Tapi kita dari dulu mengedepankan pelayanan," tuturnya saat dihubungi detikFinance, Kamis (5/10/2017).

Memang jika dibandingkan dengan perusahaan taksi lainnya, citra dari taksi yang berlambang burung biru ini paling harum. Bahkan tidak sedikit dari pengguna taksi yang setia dengan Blue Bird dengan alasan merasa nyaman dan aman.

Menurut Sigit bukan hal yang mudah bagi perusahaan untuk mempertahankan pelayanan yang prima. Salah satunya dimulai dengan proses seleksi karyawan khususnya pengemudi yang lebih ketat.

"Yang penting dalam pemilihan driver dan bisa melatihnya dengan baik. Pokoknya frontliner khususnya. Selain itu seluruh lini perusahaan memang bergerak sama mendukung pelayanan," tambahnya.

Selain itu, para pengemudi taksi Blue Bird yang telah diterima juga harus melalui pelatihan teori terlebih dahulu. Bukan hanya soal teknis tapi juga bagaimana memberikan pelayanan yang baik kepada penumpang. Pelayan tersebut pun sudah terbentuk dalam SOP.

"Tentunya bukan proses yang simple, banyak proses dari rekrutment, training, dari proses SOP, semua harus mendukung. Kita juga terus melakukan review," ujarnya.

Setelah proses training, Blue Bird juga secara berkala melakukan pemantauan terhadap para drivernya saat melakukan pelatihan praktek.

"Jadi training terus secara berkesinambungan. Selama di Blue Bird dia bukan hanya ditraining sekali, mereka berkali-kali ditraining. Bukan hanya training teori, tapi juga pelatihan praktek," tandasnya.

Menurut Sigit, kehadiran transportasi online memang cukup memberatkan, tapi dia yakin pada akhirnya pelayanan yang menjadi faktor terpenting untuk merebut hati pelanggan.

"Masalahnya bukan hanya online atau tidak, kami cukup yakin strategi kami yang mengedepankan pelayanan dari sisi pelayanan pengemudi bisa mempertahankan pelanggan. Itu kan cara pesan saja online sama enggak online. Kita juga punya jaringan lain seperti call center, itu juga bisa memberikan pelayanan yang baik. Pada akhirnya customer meminta pelayanan loh," tandasnya. (dna/dna)